Adab,Rukun, syarat berinterkasi dengan Al-qur’an
Ketika manusia mencoba mengupas keagungan
Al-Qur’an Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk
mengakui keagungaan dan kebesaran Allah swt. Karena dalam Al-Qur’an
terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang
tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum
terpikirkan dalam jiwa manusia, dan berbagai lautan lainnya yang tidak
terbayangkan oleh indra kita.
Oleh karenanya, mereka-mereka yang telah
dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh hati, dapat merasakan
‘getaran keagungan’ yang tiada bandingannya. Mereka dapat merasakan
sebuah keindahan yang tidak terhingga, yang dapat menjadikan orientasi
dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan sangat kecil sekali. Sayid
Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil Qur’annya mengungkapkan,
“Hidup di bawah naungan Al-Qur’am merupakan suatu kenikmatan.
Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang
benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa,
memberikan keberkahan dan mensucikannya.”
Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa
Al-Qur’an seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri
(Abu Syahbah, 1996 : I/312), “Bahwa suatu ketika Abu Jahal, Abu Lahab,
dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah
Rasulullah saw. pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat
Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah saw. dalam shalatnya. Mereka bertiga
memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang
lainnya. Hingga ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka
bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling
mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah
Rasulullah saw.
Namun pada malam berikutnya, ternyata
mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan
lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya
tidak akan datang ke rumah Rasulullah saw., dan mereka pun menempati
posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan
shalat, mereka pun memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah
saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka ucapkan.
Kemudian pada malam berikutnya, gejolak
jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan
Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya.
Dan manakala Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga
kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat mu’ahadah (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah saw. guna mendengarkan Al-Qur’an.
Masing-masing mereka mengakui keindahan
Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad saw.
Selain contoh di atas terdapat juga ayat yang mengungkapkan keindahan
Al-Qur’an. Allah mengatakan, “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an
ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk
terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan
perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka
berpikir.” (Al-Mujadilah: 21)
Definisi Al-Qur’an
Kata “qur’an” menurut bahasa adalah sama
dengan kata “Qiroah” yaitu isim masdar (infinitif) dari kata
Qoroa-yaqro-u-qiroatan. Demikian lah menurut sebagian ulama. Hal ini
berdasarkan firman Allah
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah
mengumpulkan (dalam dadamu) dan (membuatnya pandai) membacanya. Apabila
Kami telah selesai embacanya maka ikutilah bacaannya.” ( Q.S
Al-Qiyamah : 17)
Sedangkan menurut Istilah, Al-qur’an
didefinisikan sebagai: Kalam Allah yang tiada tandingannya (mu’jizat),
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dengan perantaraan Malaikat
Jibril, yang tertulis didalam mushaf dimulai dengan surat Al-Fatihah
dan diakhiri dengan surat An-Naas, yang sampaikepada kita secara
mutawatir serta membacanya merupakan ibadah.
A. nama-nama Al-qur’an
terdapat beberapa nama untuk alqur’an sebagai man telah disebut kan oleh Allah sendiri
1. Al – Qur’an ( Slalu dijaga dan dihafal )
Firman Allah ; “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. ( QS Al Isro’ : 9 )
2. Kitab ( Ditulis diatas lembaran-lembaran yang tersusun)
Firman Alah, “ telah Kami turunkan
kepadamu Al-Kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu” ( QS Al-Anbiya : 10 )
3. Furqon ( Pembeda )
Firman Allah; “ Maha Suci Allah yang
telah menurunkan Al-Furqon kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi
peringatan kepada semsta”. ( QS. Al-Furqon : 1 )
4. Adz-Dzikr ( Peringatan / pelajaran )
Firman Allah; “Sesunggahnya Kami lah
yang menurunkan Adz-Dzikr ( Al-Qur’an ), dan sesungguhnya kami pulalah
yang benar-benar akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr : 9 )
5. At-Tanzil ( yang diturunkan )
Firman Allah, “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan (Tanzil ) oleh Tuhan semesta aalam.” (QS. Asyura’ : 192 )
Dari kelima nama tersebut diatas yang
paling popular disebut aalah Al-Qur’an dan Kitab. Penamaan Qur’an
dengan kedua nama iini memberika isyarat bahwa selayaknya lah ia
dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan. Dengan demikian apabila
salah satunya melencengmaka yang lain akan melurusnya. Kita tidak
menyandarkan pada hafalan seseorang sebelum hafalannya sesuai dengan
tulisan yang telah disepakati oleh para sahabat, yang dinukilkan kepada
generasi ke generasi menurut keadaan sewaktu dibuat pertama kali.dan
kitapun tidak menyandarkan hanya pada tulisan penulis sebelum tulisan
itu sesuai dengan hafalan ttersebut berdasarkan sanad yang shohih dan
mutawatir.
sejarah turunnya Alquran
Periode Turunnya Al-Quran
Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114
surah dan susunannya ditentukan oleh Allah SWT. dengan cara tawqifi,
tidak menggunakan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku
ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas satu masalah, selalu
menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan
pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran Al-Karim, yang
di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti diterangkan.
Persoalan akidah terkadang bergandengan
dengan persoalan hukum dan kritik; sejarah umat-umat yang lalu
disatukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda
kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula, ada suatu
persoalan atau hukum yang sedang diterangkan tiba-tiba timbul persoalan
lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungan antara satu dengan
yang lainnya. Misalnya, apa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat
216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan
dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan
perkawinan dengan orang-orang musyrik.
Yang demikian itu dimaksudkan agar
memberikan kesan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran dan hukum-hukum yang
tercakup didalamnya merupakan satu kesatuan yang harus ditaati oleh
penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu
dengan yang lainnya. Dalam menerangkan masalah-masalah filsafat dan
metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah filsafat dan logika.
Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang
demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan dengan
kitab-kitab yang dikenal manusia.
Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan
tujuan kitab-kitab ilmiah. Untuk memahaminya, terlebih dahulu harus
diketahui periode turunnya Al-Quran. Dengan mengetahui periode-periode
tersebut, tujuan-tujuan Al-Quran akan lebih jelas.
Para ulama ‘Ulum Al-Quran membagi sejarah
turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan
(2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun pada periode pertama
dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode
kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah. Tetapi, di sini, akan dibagi
sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada hakikatnya
periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah kumpulan dari
ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat Madaniyyah.
Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok
Al-Quran.
Periode Pertama
Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal
turunnya wahyu pertama (iqra’), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan
wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak
ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima. Baru setelah turun
wahyu kedualah beliau ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang
diterimanya, dengan adanya firman Allah: “Wahai yang berselimut,
bangkit dan berilah peringatan” (QS 74:1-2).
Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu
Ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikan bagi Rasulullah
saw., dalam membentuk kepribadiannya. Perhatikan firman-Nya: Wahai
orang yang berselimut, bangunlah dan sampaikanlah. Dan Tuhanmu
agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoran (syirik).
Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak
darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu (QS
74:1-7).
Dalam wahyu ketiga terdapat pula
bimbingan untuknya: Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, shalatlah
di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu separuh malam, kuranq
sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan tartil (QS
73:1-4).
Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73:5).
Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya:
Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. Rendahkanlah
dirimu, janganlah bersifat sombong kepada orang-orang yang beriman yang
mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) enggan mengikutimu,
katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian kerjakan (QS 26:214-216).
Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan bagi beliau demi suksesnya dakwah.
Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar
mengenai sifat dan af’al Allah, misalnya surah Al-A’la (surah ketujuh
yang diturunkan) atau surah Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah
“sebanding dengan sepertiga Al-Quran”, karena yang mengetahuinya dengan
sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan tanzih
(penyucian) Allah SWT.
Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar
akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan
hidup masyarakat jahiliah ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya,
dalam surah Al-Takatsur, satu surah yang mengecam mereka yang
menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma’un yang menerangkan kewajiban
terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan agama mengenai
hidup bergotong-royong.
Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun
dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat
Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:
- Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran.
- Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti yang digambarkan oleh Abu Sufyan: “Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami.”
- Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.
Periode Kedua
Periode kedua dari sejarah turunnya
Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi pertarungan hebat
antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam
menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi kemajuan dakwah
Islamiah.
Dimulai dari fitnah, intimidasi dan
penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika
itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua
–termasuk Rasulullah saw.– berhijrah ke Madinah.
Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran,
di satu pihak, silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban
prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu, seperti:
Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan
yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya (QS
16:125).
Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan
ancaman yang pedas terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling
dari kebenaran, seperti: Bila mereka berpaling maka katakanlah wahai
Muhammad: “Aku pertakuti kamu sekalian dengan siksaan, seperti siksaan
yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud” (QS 41:13).
Selain itu, turun juga ayat-ayat yang
mengandung argumentasi-argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian
hari kiamat berdasarkan tanda-tanda yang dapat mereka lihat dalam
kehidupan sehari-hari, seperti: Manusia memberikan perumpamaan bagi
kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata: “Siapakah yang dapat
menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan hancur?” Katakanlah,
wahai Muhammad: “Yang menghidupkannya ialah Tuhan yang menjadikan ia
pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia yang
menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah)
lalu dengannya kamu sekalian membakar.” Tidaklah yang menciptakan
langit dan bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya
Ia Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah
menghendaki sesuatu Ia hanya memerintahkan: “Jadilah!”Maka jadilah ia
(QS 36:78-82).
Ayat ini merupakan salah satu argumentasi
terkuat dalam membuktikan kepastian hari kiamat. Dalam hal ini,
Al-Kindi berkata: “Siapakah di antara manusia dan filsafat yang sanggup
mengumpulkan dalam satu susunan kata-kata sebanyak huruf ayat-ayat
tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan Tuhan kepada Rasul-Nya
saw., dimana diterangkan bahwa tulang-tulang dapat hidup setelah
menjadi lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan seperti langit
dan bumi; dan bahwa sesuatu dapat mewujud dari sesuatu yang berlawanan
dengannya.”7
Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran
telah sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga
mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam rasio dan alam
pikiran sehat.
Periode Ketiga
Selama masa periode ketiga ini, dakwah
Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar karena
penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran
agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-Madinah Al-Munawwarah).
Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di mana timbul
bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti:
Prinsip-prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai
kebahagiaan? Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl
Al-Kitab, orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan
Al-Quran dengan cara yang berbeda-beda?
Dengan satu susunan kata-kata yang
membangkitkan semangat seperti berikut ini, Al-Quran menyarankan:
Tidakkah sepatutnya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari
janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan merekalah yang memulai
peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka? Sesungguhnya Allah lebih
berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar orang yang
beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu
sekalian serta menghina-rendahkan mereka; dan Allah akan menerangkan
kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman (QS
9:13-14).
Adakalanya pula merupakan
perintah-perintah yang tegas disertai dengan konsiderannya, seperti:
Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian,
berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari perbuatan setan.
Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian mendapat
kemenangan. Sesungguhnya setan tiada lain yang diinginkan kecuali
menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh
minuman keras dan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu dari
dzikrullah dan sembahyang, maka karenanya hentikanlah
pekerjaan-pekerjaan tersebut (QS 5:90-91).
Disamping itu, secara silih-berganti,
terdapat juga ayat yang menerangkan akhlak dan suluk yang harus diikuti
oleh setiap Muslim dalam kehidupannya sehari-hari, seperti: Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki satu rumah selain
rumahmu kecuali setelah minta izin dan mengucapkan salam kepada
penghuninya. Demikian ini lebih baik bagimu. Semoga kamu sekalian
mendapat peringatan (QS 24:27).
Semua ayat ini memberikan bimbingan
kepada kaum Muslim menuju jalan yang diridhai Tuhan disamping mendorong
mereka untuk berjihad di jalan Allah, sambil memberikan didikan akhlak
dan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam
situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan takut). Dalam
perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita tujuh puluh orang
korban, turunlah ayat-ayat penenang yang berbunyi: Janganlah kamu
sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang
tinggi (menang) selama kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka,
maka golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari
kemenangan Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah
membuktikan orang-orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka
syuhada, sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya (QS
3:139-140).
Selain ayat-ayat yang turun mengajak
berdialog dengan orang-orang Mukmin, banyak juga ayat yang ditujukan
kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab dan orang-orang musyrik.
Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan yang benar, sesuai dengan
sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang ditujukan kepada
ahli Kitab ialah: Katakanlah (Muhammad): “Wahai ahli kitab (golongan
Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara
kita yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat
sebagian dari kita tuhan yang bukan Allah.” Maka bila mereka berpaling
katakanlah: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim” (QS
3:64).
ISI KANDUNGAN AL QURAN :
Pokok-pokok yang terkandung dalam al quran pada dasarnya adalah
sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia agar memperoleh kebahagiaan
hidup di dunia dan di akhirat. Adapun pokok-pokok ajaran itu meliputi :
1. Ajaran yang berkenaan dengan TAUHID, yaitu ke-imanan terhadap Allah SWT.
2. Ajaran yang berkenaan dengan IBADAH, yang meng-atur pengabdian manusia kepada Allah SWT.
3. Ajaran yang berkenaan dengan AKHLAQ manusia ter-hadap Allah, sesama manusia serta makhluq lainnya.
4. Ajaran yang berkenaan dengan HUKUM, yang meng-atur kepentingan umat manusia, seperti pembunuhan, pencurian dsb.
5. Ajaran yang berhubungan dengan
MASYARAKAT, yaitu mengatur tata cara kehidupan manusia dengan manusia
lainnya, seperti : muammalat, munakahat, ber-masyarakt, berbangsa dan
bernegara.
6. Ajaran yang berkenaan dengan JANJI
dan ANCAMAN Orang yang beribadah dijanjikan surga dan yang durha-ka
mendapat balasan neraka.
7. Hal-hal yang berhubungan dengan
SEJARAH umat manusia masa lampau, sebagai teladan bagi manusia masa
sekarang maupun akan datang.
Keistimewaan Dan Keutamaan Al-qur’an
Al Qur’an adalah kita suci umat islam
yang diturukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rasul
memiliki berbagi keistimewaan / keutamaan dibandingkan dengan
kitab-kitab suci lainnya sebagai berikut di bawah ini :
- Memberi pedoman dan petunjuk hidup lengkap beserta hukum-hukum untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia seluruh bangsa di mana pun berada serta segala zaman / periode waktu.
- Memiliki ayat-ayat yang mengagumkan sehingga pendengar ayat suci al-qur’an dapat dipengaruhi jiwanya.
- Memutus rantai taqlid yang menghilangkan kebebasan berfikir serta memperlemah kemampuan berupaya dan berkarya manusia.
- Memberi gambaran umum ilmu alam untuk merangsang perkembangan berbagai ilmu.
- Memiliki ayat-ayat yang menghormati akal pikiran sebagai dasar utama untuk memahami hukum dunia manusia.
- Menyamakan manusia tanpa pembagian strata, kelas, golongan, dan lain sebagainya. Yang menentukan perbedaan manusia di mata Allah SWT adalah taqwa.
- Melepas kehinaan pada jiwa manusia agar terhindar dari penyembahan terhadap makhluk serta menanamkan tauhid dalam jiwa.
Keistimewaan Orang Yang Membaca Al-Qur’an
• Di Dunia
Mereka sentiasa dengan pembacaan Al-Quran dan mereka adalah manusia yang terpilih,diangkat oleh ALLAH Taala darjatnya setinggi-tinggi darjat.
Mereka sentiasa dengan pembacaan Al-Quran dan mereka adalah manusia yang terpilih,diangkat oleh ALLAH Taala darjatnya setinggi-tinggi darjat.
• Peribadinya
Memperolehi ketenangan dengan cahaya ALLAH dan sentiasa mendengar dan metaati perintah Allah serta meninggalkan setiap yang dilarang daripada Al-quran dengan hati yang terbuka.
Memperolehi ketenangan dengan cahaya ALLAH dan sentiasa mendengar dan metaati perintah Allah serta meninggalkan setiap yang dilarang daripada Al-quran dengan hati yang terbuka.
• Hatinya
Bersih lagi suci dan tidak berkarat selamanya.
Bersih lagi suci dan tidak berkarat selamanya.
• Rumahnya
Dilihat oleh penduduk dilangit seperti mana penduduk bumi melihat bintang-bintang,rumahnya dipenuhi cahaya yang ,meliputi keluarganya,banyak kebaikan didalamnya,para malaikat hadir dan syaitan-syaitan lari keluar dari rumahnya.
Dilihat oleh penduduk dilangit seperti mana penduduk bumi melihat bintang-bintang,rumahnya dipenuhi cahaya yang ,meliputi keluarganya,banyak kebaikan didalamnya,para malaikat hadir dan syaitan-syaitan lari keluar dari rumahnya.
• Pahalanya
Setiap satu huruf bacaanya sama dengan 10 kebaikan(pahala),dikurniakan kepadanya ketenangan,dilimpahi rahmat keatasnya, dan para malaikat memayunginya. Doanya dimakbulkan ketika tamat bacaanya.Dia diumpamakan seperti buah epal wangi baunya dan sedap rasanya….
Setiap satu huruf bacaanya sama dengan 10 kebaikan(pahala),dikurniakan kepadanya ketenangan,dilimpahi rahmat keatasnya, dan para malaikat memayunginya. Doanya dimakbulkan ketika tamat bacaanya.Dia diumpamakan seperti buah epal wangi baunya dan sedap rasanya….
• Hari kiamat
Al-Quran akan menjadi syafaat untuknya,dia akan berada bersama-sama para malaikat,diangkat darjatnya ke syurga peringkat demi peringkat… Balasan Orang Meninggalkan Al-Quran
Al-Quran akan menjadi syafaat untuknya,dia akan berada bersama-sama para malaikat,diangkat darjatnya ke syurga peringkat demi peringkat… Balasan Orang Meninggalkan Al-Quran
• Di Dunia
Orang yang tidak suka membaca Al-Quran,kehidupanya sempit, masalahnya tidak berakhir dan dadanya dipenuhi dengan kelemahan..
Orang yang tidak suka membaca Al-Quran,kehidupanya sempit, masalahnya tidak berakhir dan dadanya dipenuhi dengan kelemahan..
• Peribadinya
Tidak teratur, murung dan sempit dadanya
Tidak teratur, murung dan sempit dadanya
• Hatinya
Berkarat atau kotor seperti mana karatnya besi kerana hatinya tidak dimasuki cahay Al-Quran.
Berkarat atau kotor seperti mana karatnya besi kerana hatinya tidak dimasuki cahay Al-Quran.
• Rumahnya
Keadaan rumahnya seperti tanah perkuburan yang gelap, penghuninya sesak, sedikit kebaikannya,jika banyak(kebaikan) tiada keberkatan. Tidak dimasuki malaikat malah dihuni oleh syaitan-syaitan.
Keadaan rumahnya seperti tanah perkuburan yang gelap, penghuninya sesak, sedikit kebaikannya,jika banyak(kebaikan) tiada keberkatan. Tidak dimasuki malaikat malah dihuni oleh syaitan-syaitan.
• Pahalanya
Tiada pahala untuknya,diumpamakannya seperti buah peria tidak mempunyai bau dan rasa pahit manakala hatinya seperti rumah yang roboh…
Tiada pahala untuknya,diumpamakannya seperti buah peria tidak mempunyai bau dan rasa pahit manakala hatinya seperti rumah yang roboh…
• Hari kiamat
ALLAH akan menghilangkan penglihatanya dan akan dibangkitkan diantara makhluk-makhluk yang buta seraya berkata” WAHAI TUHANKU MENGAPA AKU DIBANGKITKAN DALAM KEADAAN BUTA SEDANGKAN AKU CELIK DI DUNIA?.MAKA DIKATAKAN KEPADANYA : “DEMIKIANLAH TELAH DATANG AYAT-AYAT KAMI,MAKA KAMU MELUPAKANNYA DAN BEGITULAH PULA PADA HARI INI KAMU PULA DILUPAKAN
ALLAH akan menghilangkan penglihatanya dan akan dibangkitkan diantara makhluk-makhluk yang buta seraya berkata” WAHAI TUHANKU MENGAPA AKU DIBANGKITKAN DALAM KEADAAN BUTA SEDANGKAN AKU CELIK DI DUNIA?.MAKA DIKATAKAN KEPADANYA : “DEMIKIANLAH TELAH DATANG AYAT-AYAT KAMI,MAKA KAMU MELUPAKANNYA DAN BEGITULAH PULA PADA HARI INI KAMU PULA DILUPAKAN
Adab Membaca Alquran
1. Membersihkan mulut dengan bersiwak sebelum membaca Al Qur’an.
2. Membaca Al Qur’an di tempat yang bersih seperti masjid, dsb.
3. Menghadap kiblat.
4. Membaca ta’awudz (A’udzu billahi minas-syaithonirrajiim) ketika mulai membaca Al Qur’an.
Firman Allah Ta’ala: (Apabila engkau membaca Al Qur’an maka mohonlah perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk)
5. Membaca basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim) di permulaan tiap surat kecuali surat At Taubah.
6. Khusyu’ dan teliti pada setiap ayat yang dibaca.
Firman Allah Ta’ala: (Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci) ( Surat Muhammad: ayat 24 )
Firman Allah Ta’ala: (Ini adalah sebuah
Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka
memerhatikan ayat-ayatnya ….)
( Surat Shaad: ayat 29 )
( Surat Shaad: ayat 29 )
7. Memperindah, melagukan dan memerdukan suara dalam membaca Al Qur’an.
Firman Allah Ta’ala: (…..dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan)
( Surat Al Muzzammil: ayat 4 )
( Surat Al Muzzammil: ayat 4 )
Dari Abu Hurairah ra. berkata; Rasulullah
saw. bersabda,”Bukan dari golongan kita orang-orang yang tidak
memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an.”
( Riwayat Bukhari )
( Riwayat Bukhari )
Dari Abu Hurairah ra. juga, bahawa beliau
berkata; Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak
mengizinkan sesuatu seperti yang Dia izinkan kepada seorang nabi yang
bagus suaranya, di mana beliau melagukan Al Qur’an dengan keras.”
( Riwayat Bukhari & Muslim )
( Riwayat Bukhari & Muslim )
8. Pelan dan tidak tergesa-gesa dalam membaca Al Qur’an.
Dari Abi Wail dari Abdullah berkata: Pada
waktu pagi kami pergi kepada Abdullah, dia berkata; Seseorang telah
berkata: “Aku telah membaca satu mufasshal (seperempat Al Qur’an) tadi
malam”, Abdullah berkata: “Secepat itukah seperti orang membaca syair?,
sesungguhnya aku mendengar bacaan dan aku menghafal beberapa pasang ayat
yang dibaca Rasulullah saw. yaitu sebanyak delapan belas dari mufasshal
dan ada dua dari Alif Laam Haa Miim.” ( Riwayat Bukhari )
dan ada dua dari Alif Laam Haa Miim.” ( Riwayat Bukhari )
9. Memperhatikan bacaan (yang panjang dipanjangkan dan yang pendek dipendekkan).
Dari Qatadah ra. berkata; Aku bertanya
kepada Anas bin Malik ra. tentang bacaan Rasulullah saw. Anas menjawab:
Beliau memanjangkan yang panjang (Mad).”
Pada riwayat lain: Anas membaca ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’ dia memanjangkan ‘Bismillaah’, dan memanjangkan ‘ar-rahmaan’ dan memanjangkan ‘ar-rahiim’ Dari Ummu Salamah ra. bahwa dia menggambarkan bacaan Rasulullah saw. seperti membaca sambil menafsirkan; satu huruf, satu huruf.
(Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasai’e. Tirmizi berkata: hadits ini hasan
sahih)
Pada riwayat lain: Anas membaca ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’ dia memanjangkan ‘Bismillaah’, dan memanjangkan ‘ar-rahmaan’ dan memanjangkan ‘ar-rahiim’ Dari Ummu Salamah ra. bahwa dia menggambarkan bacaan Rasulullah saw. seperti membaca sambil menafsirkan; satu huruf, satu huruf.
(Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasai’e. Tirmizi berkata: hadits ini hasan
sahih)
10. Berhenti untuk berdoa ketika membaca ayat rahmat dan ayat azab.
Dari Huzaifah ra. ia berkata; Pada suatu
malam aku shalat bersama Nabi Muhammad saw., beliau membaca surat Al
Baqarah kemudian An Nisaa’ kemudian Ali ‘Imran. Beliau membaca
perlahan-lahan, apabila sampai pada ayat tasbih beliau bertasbih, dan
apabila sampai pada ayat permohonan beliau memohon, dan apabila sampai
pada ayat ta’awudz (mohon perlindungan) beliau mohon perlindungan.
( Riwayat Muslim )
( Riwayat Muslim )
11. Menangis, sedih dan terharu ketika membaca Al Qur’an.
Allah berfirman: (Dan apabila mereka
mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat
mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang
telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata,
“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama
orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian
Muhammad saw.) ( surah Al Maidah – ayat 83 )
Allah Ta’ala berfirman:(Katakanlah,
“Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi
Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya
apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur sambil
bersujud),
(dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan kami;sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”)
(Dan mereka menyungkur sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk)
( Surat Al Israa’: ayat 107 – 109 )
12. Sujud tilawah, bila bertemu ayat sajdah.
Disahkan dari Umar ra. bahawa ia membaca
surat An Nahl di atas mimbar pada hari Jum’at sampai ketika membaca ayat
sujud beliau turun dan sujud, begitu juga orang-orang yang lain ikut
sujud bersama beliau. Dan ketika datang Jum’at berikutnya ia membaca
surat tersebut dan ketika sampai pada ayat sujud ia berkata, “Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya kita melalui ayat sujud barangsiapa yang
sujud, maka ia telah mendapat pahala, dan barangsiapa yang tidak sujud,
maka tiada dosa baginya.” dan Umar ra. tidak sujud. ( Riwayat Bukhari )
13. Suara tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan.
Allah berfirman: (….dan janganlah kamu
mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan
carilah jalan tengah di antara keduanya)
( surah Al Isra’ – ayat 110 )
( surah Al Isra’ – ayat 110 )
Dari ‘Uqbah bin Amir ra. berakata: Aku
mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al Qur’an dengan
suara keras seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan dan
orang yang membaca Al Qur’an secara perlahan seperti orang yang
bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
( Riawayat Abu Daud dan Tirmizi dan An Nasa’i )
( Tirmizi berkata: Hadis ini hasan )
( Riawayat Abu Daud dan Tirmizi dan An Nasa’i )
( Tirmizi berkata: Hadis ini hasan )
14. Menghindari tawa, canda dan bicara saat membaca.
Allah berfirman: (Dan apabila dibacakan
Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang
agar kamu mendapat rahmat)
( Surah Al A’raaf – ayat 204 )
( Surah Al A’raaf – ayat 204 )
15. Apabila Al Qur’an sudah dibacakan
dengan bacaan (qiraat) tertentu, maka etisnya supaya megikuti bacaan
tersebut selama masih dalam satu majlis.
16. Memperbanyak membaca Al Qur’an dan mengkhatamkannya (menamatkannya)
Dari Abdullah bin ‘Amr berkata:
Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al Qur’an dalam waktu satu bulan”,
Aku menjawab, “Saya mampu,” Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah ia dalam
waktu sepuluh hari”, Aku menjawab, “Saya mampu.” Rasulullah saw.
bersabda lagi, “Bacalah ia dalam waktu tujuh hari dan jangan lebih dari
itu.”
( Riwayat Bukhari dan Muslim )
( Riwayat Bukhari dan Muslim )
Dasar-dasar untuk Memahami Al-Quran
Artikel berikut ini merupakan ringkasan dari kitab Mafaatiihu Li at-Ta’ammuli ma’al Qur’aan. Mudah-mudahan semakin menggugah semangat kita untuk mempelajari, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan Al-Quran.
Memahami Al-Quran hukumnya adalah wajib berdasarkan ayat berikut:
“Maka mengapakah mereka tidak mau mentadabburi al-Qur’an? Apakah karena hati mereka terkunci mati?” (QS 47:24)
“Maka mengapakah mereka tidak mau mentadabburi al-Qur’an? Apakah karena hati mereka terkunci mati?” (QS 47:24)
Ada beberapa tahapan agar kita mampu untuk memahami dan mampu berinteraksi dengan Al-Quran.
- Memperhatikan adab tilawah.
- Membaca satu surat, satu juz, atau satu ruku’ dengan pelan- pelan, khusyu’, tadabbur dan penuh penghayatan. Tidak mementingkan target dalam satu hari harus selesai satu surat, satu juz atau beberapa lembar.
- Memperhatikan dan merenungi satu ayat, diperdalam untuk mendapatkan arti yang terkandung dalam ayat tersebut, dengan cara dibaca dengan penuh perasaan dan penghayatan, mendengarkan dari bacaan orang lain atau kaset dan dilakukan berulang-ulang sampai mendapat arti yang terkandung dalam ayat tersebut.
- Mempelajari secara rinci, susunan kata, konteks kalimat, arti yang terkandung, sebab turunnya (asbabun nuzul), i’rab sampai betul-betul memahami seluk-beluk ayat tersebut dan berbagai sudut pandang.
- Memahami korelasi ayat dengan kondisi sekarang.
- Merujuk kepada yang dipahami oleh para salafus shalih terutama pemahaman para shahabat. Hal ini dikarenakan mereka lebih ahli dibanding Profesor Al-Quran terpintar saat ini pun, karena mereka mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, dari aspek kesopanan dan aspek ilmiah, kita harus lebih mendahulukan pemahaman para shahabat. Hal ini untuk mencegah agar Al-Quran tidak difahami sesuai dengan hawa nafsu kita.
- Mempelajari pendapat para ahli tafsir yang memiliki bobot ilmiah.
Wirid Harian Seorang Muslim dalam Membaca Al-Qur’an
Allah swt, menyukai amal shalih yang istimrar
berkesinambungan walaupun sedikit dibanding banyak tetapi kurang
memperhatikan aspek kontinyuitasnya. Seorang muslim hendaknya
merancang wirid harian untuk berinteraksi dengan Al-Quran, sebagai
berikut:
1. Wirid tilawah, tidak kurang sehari satu juz.
2. Wirid hapalan menghapal 1 sampai tiga ayat setiap hari.
3. Wirid tadabbur, mentadabburi Al-Qur’an 1 sampai 3 ayat setiap hari.
Kunci-kunci untuk Dapat Memahami dan Berinteraksi dengan Al-Quran
- Memahami al-Quran sebagai kitab yang syamil mencakup seluruh urusan kehidupan.Al-Quran adalah kitab yang syamil, manhaj hidup yang sempurna, memiliki tabiat gerak yang hidup, membangun peradaban yang positif dan tetap berpengaruh sampai akhir zaman.Sebagian orang terperangkap untuk memandang Al-Quran dan satu sisi saja, misalkan hanya memandang Al-Quran dan ilmu pengetahuannya saja, sejarahnya saja, bahasanya saja, ataupun Al-Quran hanya dijadikan jampi-jampi sebagai obat saja, dsb.Kita tidak mengingkari bahwa semua hal itu dicakup oleh Al-Quran, bukan kita tidak mempelajari bagian-bagian itu semua tapi yang tidak boleh ialah hanya menghususkan diri kita pada satu sisi saja.Ada sebagian ulama yang membahas Al-Quran dari sisi akhlaq, sisi ekonomi, sosiologi, tata bahasa dan lain-lain. Ini adalah usaha yang sangat berharga dan kita tidak bisa mengesampingkannya. Tapi hendaklah orang yang mempelajari Al-Quran memahami bahwa Al-Quran adalah satu kerangka yang menyeluruh, menyeluruh dalam tabi’atnya, peranannya, risalah, mu’jizat, ilmu, tema-temanya, manhaj, undang-undang dan syari’atnya serta setiap perkara yang diisyaratkan dalam al-Qur’an.
- Memfokuskan kepada tujuan utama Al-Quran.Sebagian manusia
menggunakan Al-Quran dengan tujuan sampingan, tujuan furu’iyah atau
sama sekali tidak sesuai dengan tujuan Al-Quran diturunkan. Seperti
Al-Quran dijadikan untuk perlombaan, Al-Quran dibaca untuk orang
mati saja, Al-Quran hanya diambil barakahnya dengan dijadikan
azimat, ruqa’ dan tamimah. Al-Quran hanya dijadikan pajangan yang
menghiasi rumah, mobil atau tempat-tempat lain.Mereka tidak menggunakan
Al-Quran untuk membukakan hati, jiwa, perasaan dan
akal, sehingga mereka hidup tidak sesuai dengan tuntunan Al-Quran dalam seluruh lapangan kehidupan, baik kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, yayasan-yayasan, negara dan sebagainya.Tujuan utama Al-Quran berkisar pada empat perkara berikut ini:- Al-Quran sebagai petunjuk jalan yang lurus menuju Allah (Al-Isra: 9,
as-Syura: 52, al-Maidah: 15 – 16). - Membentuk kepribadian muslim yang seimbang. Diantaranya adalah:
- Menanamkan iman yang kuat.
- Membekali akal dengan ilmu pengetahuan.
- Memberi arahan untuk dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan
sumber-sumber kebaikan yang ada di dunia. - Menetapkan undang-undang agar setiap muslim mampu memberikan sumbangsih dan kreatif untuk mencapai kemajuan.
- Membentuk masyarakat muslim yang betul-betul Qur’ani, yaitu masyarakat yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang merupakan penjelmaan Al-Quran dalam setiap gerak kehidupannya. Masyarakat yang diasuh dan dibimbing dengan arahan Al-Quran, hidup di bawah naungannya, dan berjalan di bawah cahayanya, seperti masyarakat sahabat (al-Anfal 24).
- Membimbing umat dalam memerangi kejahihiyyahan.
- Al-Quran sebagai petunjuk jalan yang lurus menuju Allah (Al-Isra: 9,
- Memperhatikan sisi harakah dalam menegakkan dakwah, jihad dan hukum
Islam, karena Al-Quran memiliki sifat (waqi’iyah harakiyah):- Jidiyatul harakiyah.
- Harakah dzatu marahil.
- Harakah daibah walwail mutajaddidah.
- Syari’at mengatur hubungan dengan kelompok non muslim.
- Menjaga suasana pemikiran agar selalu ada dalam bingkai topik permasalahan yang terkandung dalam ayat yang sedang dibaca.Ketika membaca Al-Quran diperbolehkan untuk memperdalam satu ayat dari sisi ilmu pengetahuan, dan sisi tata bahasa atau yang lainnya, tapi hendaknya, perasaan, pemikiran, penghayatannya dan perhatiannya tetap pada pokok pikiran ayat yang sedang dibaca.
- Menjauhi bertele-tele yang bisa menghalangi cahaya Al-Qur’an.Misalnya tenggelam dalam perbedaan pendapat tentang qiraat, i’rab, balaghah, asal kata, perbedaan-perbedaan masalah fiqih, mempertentangkan tokoh, tempat, tanggal kisah-kisah yang diungkap dalam Al-Quran. Misalnya mempertentangkan asal kata Malaikat, berapa jumlah Ashabul Kahfi dan lain-lain.Tapi itu semua bukan berarti tidak boleh dilakukan, boleh dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki spesialisasi dalam ilmu tafsir.
- Menjauhi Israiliyyat (cerita-cerita palsu) dan menjauhi dari mempermasalahkan ayat-ayat yang mutasyabihat.
- Memasuki Al-Quran tanpa didahului oleh asumsi dan opini tertentu.Hal ini untuk menghindarkan agar makna-makna Al-Quran tidak dipaksakan agar sesuai dengan asumsi yang telah dia pegang dan berusaha mencari-cari legitimasi atas pendapat yang ia pegang dan bukan mempelajari Al-Quran untuk meluruskan pemahaman dia.Seperti yang dilakukan oleh para shahabat apabila mereka membaca Al-Quran mereka melepaskan seluruh keyakinan dan persepsi mereka yang mereka pegang ketika masa jahiliyyah.
- Tsiqah secara mutlak terhadap semua petunjuk, perintah, larangan dan berita yang diungkapkan oleh Al-Quran.
- Memahami isyarat-isyarat yang terdapat dalam Al-Quran.Di dalam Al-Quran terdapat rahasia-rahasia arti yang terkandung yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang telah memilki kunci-kunci untuk berinteraksi dengan Al-Quran dan ia memiliki bashirah, limpahan keimanan dan kesiapan untuk hidup di bawah naungan Al-Quran.Seperti ayat keimanan mendorong orang untuk merasa diawasi oleh Allah, membaca tentang hari qiamat tergerak hatinya untuk takut akan adzab Allah, kemudian ia mampu memahami hubungan satu ayat dengan yang lain padahal ayat itu diturunkan dalam senggang waktu yang cukup jauh.
- Mempunyai pemahaman bahwa satu kata atau kalimat dalam Al-Quran
mempunyai beberapa pengertian.Karena ayat Al-Quran sering diungkapkan dengan kalimat yang singkat tapi padat (I’jaz), seperti surat Al-Ashri, Imam Syafi’i mengatakan: “Kalaulah manusia mentadabburi surat al-Ashri tentu surat itu sudah cukup bagi mereka sebagai pegangan hidup” . Contoh lain al-Isra’: 16; al-Mujadilah: 5; al-A‘raf: 34; dan Thaha: 124. - Mempelajari realita shahabat dalam pengamalan al-Quran.Ibnu Mas’ud berkata, “Kami sulit menghafal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit mengamalkannya.”Ibnu Umar berkata, “Para shahabat diberi iman sebelum Al-Quran, sehingga Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad menjelaskan hukum halal dan haram, lalu mereka berpegang teguh dengan ayat tersebut.”Contoh, ketika turun ayat yang memerintahkan untuk mengalihkan arah qiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram maka mereka serentak melaksanakan dengan penuh ketaatan dan komitmen.
- Memahami bahwa Al-Quran tidak dibatasi dengan tempat dan zaman.
- Memahami korelasi ayat-ayat Al-Quran dengan realita yang ada sekarang.
- Merasa bahwa ayat-ayat Al-Quran ditujukan kepada dirinya.
- Mempelajari Al-Quran dengan manhaj talaqqi yang benar (berhadap-hadapan dengan guru yang sudah diverifikasi bacaannya, bahkan kalau bisa ada silsilahnya sampai nyambung ke Rasulullah saw).
- Menjauhkan diri dari perbedaan-perbedaan pendapat para ahli tafsir.
Memperhatikan Bagaimana para Shahabat ra Berinteraksi dengan Al-Quran.
Para shahabat ra adalah generasi yang
tumbuh dengan Al-Quran, hidup di bawah naungannya, menikmati
ayat-ayatnya, berinteraksi dengan nash-nashnya, memahami
petunjuk-petunjuknya. Mereka disinari oleh cahaya Al-Quran, sehingga
mereka menjadi generasi Qurani yang unik.
Menelaah
bagaimana mereka merealisasikan Al-Quran dalam kehidupannya membantu
kita untuk dapat meneladani mereka dan menempuh jalan yang pernah
mereka tempuh.
lbnu Mas’ud ra berkata: “Kami sulit
menghapal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang
sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit mengamalkannya.”
Ibnu Umar berkata: “Kami melalui masa
yang panjang, seseorang diantara kami diberi iman sebelum Al-Quran,
sehingga surat-surat turun kepada Nabi Muhammad, maka iapun
mempelajari halal dan haram, perintah dan larangan dan bagaimana ia
harus bersikap. Lalu saya melihat orang yang diturunkan Al-Quran
sebelum iman, maka ia membaca surat al-Fatihah sampai khatam, tetapi
ia tidak tahu apa yang dilarang dan bagaimana harus bersikap, ia
membaca Al-Quran dan menganggapnya sama dengan buku-buku murahan.”
Contoh-contoh para shahabat ra dalam berinteraksi dengan Al-Quran adalah
sebagai berikut:
sebagai berikut:
- Ketika turun QS 2:144. Seorang dari bani
Salamah yang lewat ketika orang-orang sedang ruku’ shalat shubuh,
mereka telah shalat 1 raka’at, maka ia menyeru . “Qiblat telah
dialihkan!” Maka merekapun berbalik kearah Ka’bah.
(HR Bukhari dan Abu Daud)Ibroh: Mereka mengerjakan suatu perintah dengan sesegera mungkin dan sungguh-sungguh. - Ketika turun QS 4:95 maka Ibnu Ummi Maktum ra bertanya kepada
Nabi SAW : “Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak mampu
berjihad?” Maka turun ayat lanjutannya : “Kecuali bagi yang
mempunyai ‘udzur”.
(HR Bukhari dan Tirmidzi)lbroh: Ketelitian para sahabat dan perhatian mereka yang tinggi pada setiap ayat yang turun. - Ketika turun QS 6:82 Para shahabat ra merasa sempit, maka mereka
berkata : “Ya Rasulullah siapa diantara kita yang tidak pernah
berbuat zalim? Maka Nabi SAW menjawab : “Bukan zalim itu yang dimaksud, tetapi maksudnya adalah syirik, tidakkah kalian mendengar firman Allah SWT (QS 31:13)?“
(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)lbroh : Rasa takut mereka yang luarbiasa terhadap suatu dosa, dan tidak menganggapnya kecil. - Ketika turun QS 4:123. Abubakar ra berkata: “Setiap kemaksiatan
yang aku lakukan akan dibalas, maka aku tidak mendapatkan sesuatu
untuk dapat melepaskanku dari azab dipunggungku.” Maka sabda Nabi
SAW “Apa yang anda
katakan itu wahai Abubakar ?” Jawabnya : “Ya Rasulullah semua keburukanku akan dibalas.” Jawab Nabi SAW : “Semoga Allah mengampuni anda, tidakkah anda pernah sakit, kapayahan, sedih dan tertimpa musibah ?” Maka jawabnya: “‘Ya” Maka jawab Nabi SAW : “Itulah balasannya.”
(HR Ahmad dalam al-Musnad)Ibroh: Para shahabat ra merasa setiap ayat Al-Quran itu ditujukan kepada diri mereka bukan orang lain. - Ketika Abu Thalhah ra membaca ayat 9:41, ia berkata : “Allah
sudah memerintahkan kepada yang tua maupun muda untuk berangkat
jihad.”
(HR At-Thobari)lbroh: Mereka senantiasa mentadabburi setiap ayat-ayat dengan sungguh-sungguh, dan berusaha mengamalkannya sekuat tenaga.
Merasa Bahwa Setiap Ayat itu Ditujukan Kepada Kita
lmam al-Ghazali dalam al-Ihya’ berkata: “Merasa bahwa kitalah yang dimaksud oleh setiap khithob
Al-Quran. Jika Al-Quran memerintah maka kitalah yang diperintah,
jika Al-Quran melarang maka kitalah yang dilarang, jika Al-Quran
memberi janji maka kitalah yang diberi janji, jika Al-Quran mengancam
maka kitalah yang diancam, jika Al-Quran bercerita maka kitalah yang
harus mengambil ibrohnya, bahkan jika khithob Al-Quran
berbentuk jamak maka kitalah yang paling dimaksud (QS 6:19). Bagaikan
seorang budak yang membaca surat dari majikannya, sehingga dengan
demikian maka bacaan Al-Quran akan menambah keimanan, iltizam (komitmen), pengamalan dan menjadi rijal Quraniy yang memberikan atsar dan manfaat pada dirinya dan orang lain.”
Ketika membaca Al-Quran tidak lantas
berfikir alangkah baiknya jika ini saya sampaikan dalam
kuliah/khutbah/ceramah, dsb. Seolah-olah Al-Quran ini bukan untuk
dirinya tetapi untuk orang lain selain dia, sementara ia sudah baik.
Contohlah ketika Umar ra mendengar seseorang sedang membaca surat
at-Thuur.
Tidak menganggap bahwa kisah para Nabi as
itu hanya cerita para Nabi as itu saja, atau ayat-ayat hukum itu
untuk para pemimpin, ayat-ayat jihad untuk nanti jika ada jihad,
ayat-ayat da’wah untuk para ‘ulama/muballigh dst.
Memahami bahwa Al-Quran Tidak Terbatas dengan Waktu dan Tempat
Tidak boleh membatasi Al-Quran hanya
berlaku untuk masa tertentu, orang tertentu, kaum tertentu, kecuali
memang ada dalil-dalil yang jelas tentang pengkhususannya.
Contoh QS 5:44 bukan khusus untuk bani Isra’il. QS 2:217 bukan khusus bagi orang Quraisy yang memerangi Nabi SAW saja, dst.
Dengan demikian harus kita fahami bahwa
Al-Quran sesuai dengan masa kini, terdapat relevansi yang sangat
kuat. Kita akan mendapat jawaban tentang masalah yang kita hadapi dan
akan kita lihat bahwa fenomena yang ada sekarang dibahas dengan pas
oleh Al-Quran. Sebagai contoh adalah sbb :
- Al-Hadid 4. Bahwa sampai sekarang Allah senantiasa bersama kita. (Muraqabah dan Ma’iyyatullah).
- Al-Anbiya 59-61. Pribadi lbrahim as vs Namrud dan pengikutnya.
- Al-Kahfi 19-20. Para pemuda dan peranannya.
- Al-Qashash 4. Fir’aun, karakteristik dan kesesatannya.
- Al-Muthaffifin 9. Sikap dan sifat orang durhaka.
- Al-A’raaf 96. Sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman.
- An-Nisaa’ 19. Masalah hubungan keluarga.
- As-Shaff 8-9. Perang agama.
Untuk lebih memahami ini kita dituntut untuk menambah wawasan kita dengan tsaqofah
(wawasan) yang kontemporer, sehingga kita akan lebih luas memahami
ayat-ayat Al-Quran, baik sejarah, politik. ekonomi, sosial, iptek,
dll.
Memahami Dasar-Dasar Ilmu Tafsir
Seperti ilmu bahasa Arab (nahwu, sharaf
dan balaghah), Ilmu Fiqh dan hukum-hukumnya, ilmu Ushul fiqh, dan
Ulumul Quran (Sabab-nuzul, Makkiy-Madaniy, Nasikh-Mansukh, I’jaz
al-Qur’an, qashash Al-Quran, qasam, Uslub Al-Quran, ahkam Al-Quran,
dsb).
Sebagian orang berpendapat bahwa itu
hanya bisa dikuasai oleh orang-orang yang memiliki spesialisasi
dibidang tsb, seperti lulusan IAIN, LIPIA, dsb, ini merupakan
pemahaman yang salah, karena Al-Quran tidak ditujukan kepada
kelompok tertentu dan tidak untuk dilaksanakan oleh kelompok tsb
saja, melainkan kepada seluruh muslimin dan muslimat. Menguasai dasar-dasar ilmu
Al-Quran tidak sulit dan bukan mustahil, walaupun tidak juga sangat mudah seperti membalik tangan. Bukan berarti semua kita harus menjadi ahli tafsir yang mengetahui ilmunya secara terinci, tetapi agar setiap muslim memiliki bekal yang asasi untuk dapat memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran.
Al-Quran tidak sulit dan bukan mustahil, walaupun tidak juga sangat mudah seperti membalik tangan. Bukan berarti semua kita harus menjadi ahli tafsir yang mengetahui ilmunya secara terinci, tetapi agar setiap muslim memiliki bekal yang asasi untuk dapat memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran.
Ya
Allah, jadikanlah kami ahlul Quran dan jangan Engkau haramkan kepada
kami untuk memahami Al-Quran, dan berikanlah kepada kami taufik dan
hidayahMu agar kami senantiasa mampu untuk mengamalkan Al-Quran…
Oleh Dr. Shalah Abdul Fattah al-Kholidiy
Cara Memahami Nash Al Qur’an
1. Memahami Ayat dengan Ayat
Menafsirkan satu ayat Qur’an dengan ayat
Qur’an yang lain, adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena
ada sebagian ayat Qur’an itu yang menafsirkan (baca, menerangkan)
makna ayat-ayat yang lain. Contohnya ayat :
“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati.” (Yunus : 62)
Lafadz auliya’ (wali-wali), diterangkan/ditafsirkan dengan ayat berikutnya yang artinya : “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus : 63)
Berdasarkan ayat di atas maka setiap
orang yang benar-benar mentaati perintah-perintah Allah dan
meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka mereka itu adalah para wali
Allah. Tafsiran ini sekaligus sebagai bantahan orang-orang yang
mempunyai anggapan, bahwa wali itu ialah orang yang mengetahui
perkara-perkara yang gaib, memiliki kesaktian, di atas kuburnya
terdapat bangunan kubah yang megah, atau keyakinan-keyakinan batil
yang lain. Dalam hal ini, karamah bukan sebagai syarat untuk
membuktikan orang itu wali atau bukan. Karena karamah itu bisa saja
tampak bisa pula tidak.
Adapun hal-hal aneh yang ada pada diri
sebagian orang-orang sufi dan orang-orang ahli bid’ah, adalah sihir,
seperti yang sering terjadi pula pada orang-orang majusi di India dan
lain sebagainya. Itu sama sekali bukan karamah, tetapi sihir seperti
yang difirmankan Allah : “Terbayang kepada Musa, seolah-olah ia merayap cepat lantaran sihir mereka.” (Thaha: 66)
2. Memahami Ayat Al-Qur’an dengan Hadits Shahih
Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadits
shahih sangatlah urgen, bahkan harus. Allah menurunkan Al-Qur’an
kepada Nabi Shallallahu alaihi wasalam. Tidak lain supaya diterangkan
maksudnya kepada semua manusia. Firman-Nya : “…Dan Kami turunkan
Qur’an kepadamu (Muhammad) supaya kamu terangkan kepada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka pikirkan.”
(An-Nahl : 44)
Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda : “Ketahuilah, aku sungguh telah diberi Al-Qur’an dan yang seperti Qur’an bersama-sama.” (HR. Abu Dawud)
Berikut contoh-contoh tafsirul ayat bil hadits:
Ayat yang artinya: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.” (Yunus : 26)
Tambahan di sini menurut keterangan Rasulullah, ialah berupa kenikmatan melihat Allah. Beliau bersabda : “Lantas
tirai itu terbuka sehingga mereka dapat melihat Tuhannya, itu lebih
mereka sukai dari pada apa-apa yang diberikan kepada mereka.”
Kemudian beliau membaca ayat ini : Bagi orang-orang yang berbuat
baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya. ” (HR.
Muslim).
Ketika turun ayat, yang artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukan iman mereka dengan kezhaliman….” (Al-An’am : 82)
Menurut Abdullah bin Mas’ud, para sahabat
merasa keberatan karenanya. Lantas merekapun bertanya, “Siapa di
antara kami yang tidak menzalimi dirinya, ya Rasul?” Beliau jawab, “Bukan
itu maksudnya. Tetapi yang dimaksud kezaliman di ayat itu adalah
syirik. Tidakkah kalian mendengar/ucapan Lukman kepada putranya yang
berbunyi: “Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena
perbuatan Syirik (menyekutukan Allah) itu sungguh suatu kezaliman
yang sangatlah besar.” (HR. Muslim)
Dari ayat dan hadits itu dapat dipetik
kesimpulan : Kezaliman itu urutan-nya bertingkat-tingkat. Perbuatan
maksiat itu tidak disebut syirik. Orang yang tidak menyekutukan
Allah, mendapat keamanan dan petunjuk.
3. Memahami Ayat dengan Pemahaman Sahabat
Merujuk kepada penafsiran para sahabat
terhadap ayat-ayat Qur’an seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud
sangatlah penting sekali untuk mengetahui maksud suatu ayat. Karena,
di samping senantiasa menyertai Rasulullah, mereka juga belajar
langsung dari beliau. Berikut ini beberapa contoh tafsir dengan
ucapan sahabat, tentang ayat yang artinya: “Yaitu Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘arsy.” (Thaha 5)
Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam Kitab Fathul
Baari berkata, Menurut Ibnu Abbas dan para ahli tafsir lain, istawa
itu maknanya irtafa’a (naik atau meninggi).
4. Harus Mengetahui Gramatika Bahasa Arab
Tidak diragukan lagi, untuk bisa memahami
dan menafsiri ayat-ayat Qur’an, mengetahui gramatika bahasa Arab
sangatlah urgen. Karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
“Sungguh Kami turunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab supaya kamu memahami.” (Yusuf : 2)
Tanpa mengetahui bahasa Arab, tak mungkin bisa memahami makna ayat-ayat Qur’an. Sebagai contoh ayat: “tsummas tawaa ilas samaa’i”.
Makna istawaa ini banyak diperselisihkan. Kaum Mu’tazilah
mengartikannya menguasai dengan paksa. Ini jelas penafsiran yang
salah. Tidak sesuai dengan bahasa Arab. Yang benar, menurut pendapat
para ahli sunnah waljamaah, istawaa artinya ‘ala wa irtafa’a (meninggi dan naik). Karena Allah mensifati dirinya dengan Al-’Ali (Maha Tinggi).
Anehnya, banyak orang penganut faham Mu’tazilah yang menafsiri lafaz istawa dengan istaula.
Pemaknaan seperti ini banyak tersebar di dalam kitab-kitab tafsir,
tauhid, dan ucapan-ucapan orang. Mereka jelas mengingkari ke-Maha
Tinggian Allah yang jelas-jelas tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an,
hadits-hadits shahih, perkataan para sahabat dan para tabi’in, Mereka
mengingkari bahasa Arab di mana Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa
itu. Ibnu Qayyim berkata, Allah memerintahkan orang-orang Yahudi
supaya mengucapkan “hitthotun” (bebaskan kami dari dosa), tapi mereka pelesetkan atau rubah menjadi “hinthotun” (biji gandum). Ini sama dengan kaum Mu’tazilah yang mengartikan istawa dengan arti istaula.
Contoh kedua, pentingnya Bahasa Arab dalam menafsiri suatu ayat, misalnya ayat yang artinya:
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (yang haq) melainkan Allah…” (Muhammad: 19).
Ilah artinya al-ma’bud (yang disembah). Maka kalimat Laa ilaaha illallaah, artinya laa ma’buuda illallaah (tidak
ada yang patut disembah kecuali Allah saja). Sesuatu yang disembah
selain Allah itu banyak; orang-orang Hindu di India menyembah sapi.
Pemeluk Nasrani menyembah Isa Al-Masih, tidak sedikit dari kaum
Muslimin sangat disesalkan karena menyembah para wali dan berdo’a
meminta sesuatu kepadanya. Padahal, dengan tegas Nabi Shallallahu
alaihi wasalam berkata, artinya: “Doa itu ibadah”. (HR At-Tirmidzi).
Nah, karena sesuatu yang dijadikan
sesembahan oleh manusia banyak macamnya, maka dalam menafsirkan ayat
di atas mesti ditambah dengan kata haq sehingga maknanya menjadi Laa ma’buuda haqqon illallaah
(tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah). Dengan begitu, semua
sesembahan-sesembahan yang batil yakni selain Allah, keluar atau tidak
masuk dalam kalimat tersebut. Dalilnya ialah ayat berikut, yang
artinya: “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah. Dialah yang haq.
Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang
batil.” (Luqman: 30).
Dengan diartikannya lafadz ilah menjadi al-ma’buud,
maka jelaslah kekeliruan kebanyakan orang Islam yang berkeyakinan
bahwa Allah ada di mana-mana dan mengingkari ketinggianNya di atas
‘Arsy dengan memakai dalil ayat berikut, yang artinya: “Dan Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi.” (Az-Zukhruf: 84).
Sekiranya mereka memahami arti ilah
dengan benar, nisacaya mereka tidak memakai dalil ayat tersebut. Yang
benar, seperti yang telah diterangkan di atas, al-ilah itu artinya:
al-ma’buud sehingga ayat itu artinya menjadi : “Dan Dialah Tuhan
(yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi.”
Contoh ketiga, pentingnya mengetahu
gramatika bahasa Arab untuk supaya bisa menafsiri ayat dengan benar,
ialah mengetahui ungkapan kata akhir tapi didahulukan, dan kata depan
tapi ditaruh di akhir kalimat. Sebagai contoh : iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in. artinya: “Hanya kepadamu kami menyembah, dan hanya kepadamu pula kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5).
Didahulukannya kata iyyaaka atas kata kerja na’budu dan nasta’in, ialah untuk pembatas dan pengkhususan, maka maksudnya menjadi laa
na’budu illaa iyyaaka walaa nasta’iinu illaa bika yaa Allaah,
wanakhusshuka bil ‘ibaadah wal isti’aanah wahdaka. (kami tidak
menyembah siapapaun kecuali hanya kepadaMu. Kami tidak mohon pertolongan
kecuali hanya kepadaMu, ya Allah. Dan hanya kepadaMu saja kami
beribadah serta memohon pertolongan).
5. Memahami Nash Al-Qur’an dengan Asbabun Nuzul
Mengetahui sababun nuzul (peristiwa yang
melatari turunnya ayat) sangat membantu sekali dalam memahami
Al-Qur’an dengan benar.
Sebagai contoh, ayat yang artinya: “Katakanlah:
Panggillah mereka yang kamu anggap sebagai (Tuhan) selain Allah,
mereka tidak akan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya
darimu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru
itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka
yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya, serta
takut akan adzab-Nya. Karena adzab Tuhanmu itu sesuatu yang mesti
ditakuti.” (Al-Israa’: 56-57).
Ibnu Mas’ud berkata, segolongan manusia
ada yang menyembah segolongan jin, lantas sekelompok jin itu masuk
Islam. Karena yang lain tetap bersikukuh dengan peribadatannya, maka
turunlah ayat: Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan
kepada Tuhan mereka (Muttafaq ‘alaih).
Ayat itu sebagai bantahan terhadap
orang-orang yang menyeru dan bertawassul kepada para nabi atau para
wali. Tapi, sekiranya orang-orang itu bertawassul kepada keimanan dan
kecintaan mereka kepada para nabi atau wali, tentu tawassul semacam
itu boleh-boleh saja.
Demikian penjelasan Muhammad Ibn Jamil Zainu dalam Kitab kaifa Nafhamul Qur’an.
Rukun berinteraksi dengan Alquran
At-Tilawah (Membaca Al-Quran) (QS Al-Baqarah: 121)
Salah satu cara berinteraksi dengan
Al-Qur’an yang harus diperbanyak adalah tilawah Al-Qur’an. Salafu
sholih sangat serius dalam masalah tilawah. Utsman bin ‘Affan
mengkhatamkan setiap hari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Abdullah bin
Amru bin Al Ash ketika diperintahkan membaca Al Qur’an sebulan khatam,
beliau masih menawar bahwa dirinya masih mampu untuk lebih cepat dari
itu. Setelah terjadi tawar-menawar, maka Rasulullah saw. membolehkan
membacaAl-Quran setiap tiga hari khatam. Sementara imam As-Syafi’i
mengkhatamkan 60 kali dalam bulan Ramadhan diluar waktu sholat.
Sebagian ada yang setiap pekan khatam dan ada yang sepuluh hari
khatam. Demikianlah tilawah para shalafu sholih.
Orang-orang beriman menjadikan Al-Quran
sebagai buku bacaan hariannya dan tidak pernah bosan dan kenyang
dengan Al-Qur’an. Sebagaimana diungkapkan oleh Utsman bin ‘Affan ra, “Kalau hati kita bersih, maka kita tidak akan pernah kenyang dengan Al-Quran”. Karena dengan senantiasa membaca Al-Qur’an, akan mendapatkan banyak kebaikan. Rasulullah saw. bersabda, “Al-Qur’an
ini adalah hidangan Allah, maka terimalah hidangan itu sekuat
kemampuan kalian. Al-Quran ini adalah tali Allah, cahaya yang terang,
obat yang bermanfaat, terpeliharalah orang yang berpegang teguh
dengannya, keselamatan bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang,
maka diturunkan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk karena banyak
diulang. Bacalah karena Allah akan memberikan pahala bacaan kalian
setiap huruf sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif lam mim satu
huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. (HR Al-Hakim)
At-Tadabbur (Memahami Al-Quran) (QS Shaad: 29)
Tadabbur Al-Quran adalah meneliti
lafazh Al-Quran untuk sampai pada makna Al-Quran. Intinya bahwa
tadabbur yaitu memahami Al-Qur’an, mendalami, memikirkan dan
memperhatikan agar dapat diamalkan. Inilah tujuan inti dari diturunkan
Al-Quran, yaitu untuk difahami isinya kemudian diamalkan. Sebab jika
orang membaca sesuatu dan tidak memahami maknanya maka tujuan inti
dari apa yang dibaca tidak sampai. Orang yang berilmu dan memiliki
peradaban adalah orang yang memahami apa yang dibaca. Berkata Ibnu
Taimiyah, “Tradisi yang terjadi adalah menolak, jika suatu kaum
membaca kitab pada disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran atau
matematika kemudian tidak memahaminya. Bagaimana dengan kalam Allah
Ta’ala yang merupakan kunci penjagaan, keselamatan, kebahagiaan dan
pedoman pada agama dan dunia mereka?”
Al-Quran adalah mu’jizat Allah yang
diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dan manusia dapat menikmati
mu’jizat tersebut. Seluruh isinya berupa kebenaran, kebaikan,
keindahan, ilmu pengetahuan dan mengantarkan manusia pada kebahagiaan.
Orang yang hidup dalam naungan Al-Quran mereka akan mendapatkan
keberkahan. Keberkahan umur, keberkahan harta dan keberkahan sarana
lainnya. Sebaliknya manusia yang berpaling dari Al-Quran, mereka akan
mendapatkan kehidupan yang paling sempit, sengsara dan menderita di
dunia dan akhirat. (QS Thahaa 124-126).
Sangat disayangkan jika mu’jizat
terakhir yang membawa keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan
akhirat tidak dapat difahami dan dini’mati oleh mayoritas manusia.
Tetapi inilah realitas yang terjadi, mayoritas manusia tidak beriman
pada Al-Quran dan mayoritas umat muslim tidak mengetahui isinya.
Al-Hifzh wa al-Muhafazhah (Menghafal dan menjaga Al-Quran)
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah
ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan
tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang
zalim” (QS Al-ankabuut 29).
Maksudnya, bahwa ayat-ayat Al Quran itu
terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin turun
temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang
dapat mengubahnya. Dan inilah satu bentuk kemudahan yang Allah berikan
kepada hamba-hamba-Nya. Bahwa Al-Qur’an mudah dibaca, mudah difahami,
mudah dihafalkan dan mudah diamalkan. Surat Al-Qomar menyebutkan empat
kali, bahwa Allah telah berjanji untuk memudahkan al-Qur’an untuk
dijadikan pelajaran. “Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
(QS Al Qomar, 17,22,32,40). Para ulama tafsir, diantaranya Al-Qurthubi,
As-Suyuti dan lainnya menafsirkan, bahwa Allah telah memudah
Al-Qur’an untuk dihafalkan.
Banyak orang-orang beriman yang sudah
putus asa dalam menghafalkan Al-Qur’an, seolah tidak mampu lagi
menambah hafalannya, yang ada malah berkurang. Apalagi jika umur sudah
mulai menginjak 40 tahun. Problematika ini menunjukkan kelemahan iman
dan semangat dalam menghafalkan Al-Qur’an. Bahkan ada seorang da’i
yang mengatakan bahwa dalam Islam semuanya mudah kecuali menghafal
Al-Qur’an. Kondisi seperti ini tentu sungguh sangat memperihatinkan.
Padahal jika kita melihat keislaman para sahabat, mayoritas mereka
masuk Islam sudah dewasa, sebagiannya sudah melewati usia 40 tahun,
tetapi mereka masih terus bersemangat untuk menghafal Al-Qur’an.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang dalam dadanya tidak ada (hafalan ) dari Al-Qur’an, maka seperti rumah rusak (kosong)”
(HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Al-Hakim). Rumah rusak atau kosong, berarti
mudah dimasuki mahluk lain, seperti syetan atau jin yang senantiasa
mengganggu manusia. Dan memang kita mendapati, bahwa orang yang suka
diganggu syetan atau jin adalah orang yang hatinya kosong, yaitu kosong
dari keimanan dan kosong dari Al-Qur’an.
Rasulullah saw. banyak memberikan keistimewaan bagi orang orang yang hafal Al-Qur’an, diantaranya, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir, bersama malaikat yang mulia dan baik” (Muttafaqun ‘alaihi). “Tidak
boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu seseorang yang diberikan
Al-Qur’an dan diamalkan siang malam. Dan seseorang yang diberi harta,
dia menginfakkannya siang malam” (Muttafaqun ‘alaihi). “Ahlul Qur’an adalah ahli Allah dan yang diistimewakan-Nya” (HR Ahmad dan Ibnu Majah). “Yang memimpin (imam) suatu kaum adalah yang paling menguasai Al-Qur’an”
(HR Muslim). Pemimpin disini baik dalam shalat dan tentu saja diluar
shalat. Karena Rasulullah saw. ketika memberi tugas pada para sahabat,
yang diangkat jadi pemimpin adalah yang paling menguasai Al-Qur’an atau
yang paling faqih terhadap agama.
At-Tanfidz wa al-`Amal bihi (Mengamalkan Al-Qur’an) (QS At-Taubah 105)
Langkah interaksi terhadap Al-Qur’an
berikutnya adalah mengamalkannya. Mengamalkan Al-Qur’an berarti
mengamalkan ajaran Islam atau beramal shalih. Imam Ali menjelaskan
sifat-sifat orang yang bertaqwa, yaitu orang yang beramal sesuai
dengan petunjuk Al Qur’an (al’amalu bit tanziil). Inilah
interaksi yang harus dilakukan oleh setiap orang beriman, menjalankan
yang diperintahkan dan meninggalkan yang diharamkan. Mengamalkan
Al-Qur’an harus sampai pada tingkat bahwa Al-Qur’an menjadi
kepribadian atau akhlaknya. Inilah yang terjadi pada diri Rasulullah
saw., sebagaimana diceritakan ‘Aisyah, “Akhlak Rasul adalah Al-Qur’an” (HR Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i). Begitu juga para sahabat disebut dengan ‘Generasi Al-Qur’an yang unik’.
Diantara bentuk mengamalkan AlQur’an
adalah mengikuti sunnah Rasul saw. Karena kita melihat banyak orang
yang mengklaim mengikuti Al-Qur’an tetapi tidak mengikuti sunnah
bahkan yang menafikan sunnah. (QS Al-Hasyr 7).
Sesuatu yang harus menjadi keprihatinan
kita orang-orang beriman adalah bahwa banyak umat Islam yang
meninggalkan Al-Qur’an. Hal ini juga yang menjadi keprihatinan
Rasulullah saw. Bahkan keprihatinan ini diabadikan dalam Al-Qur’an, “Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”
(QS Al-Furqan 30). Meninggalkan Al-Qur’an ini disebabkan oleh banyak
hal, salah satunya karena begitu gencarnya propaganda penyesatan yang
dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Begitu juga upaya yang sistematis agar
umat Islam jauh dari Al-Qur’an (QS Al-Fushilat 41).
Berbagai macam dakwah kebatilan
digalakan, berbagai macam hiburan yang melalaikan disemarakkan
sehingga banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Meninggalkan
dari membaca Al-Qur’an, meninggalkan dari memahami Al-Qur’an,
meninggalkan dari menghafalkan Al-Qur’an, meninggalkan dari
mengamalkan Al-Qur’an dan meninggalkan dari segala macam yang terkait
dengan Al-Qur’an. TV mempunyai peran yang sangat besar dalam membuat
umat Islam meninggalkan Al-Qur’an.
At-Ta’lim wa ad-Da’wah wal jihaad (Mengajarkan dan menda’wahkan Al-Our’an) (QS Al-Furqaan 52).
Melihat fenomena bahwa umat
meninggalkan Al-Qur’an, maka harus ada upaya simultan bagi para da’i,
yaitu mengajarkan Al-Qur’an, menda’wahkan dan berjihad dengannya.
Inilah bentuk interaksi terakhir orang-orang beriman dengan Al-Qur’an.
Inilah sejatinya yang disebut dengan hidup dalam naungan Al-Qur’an.
Ta’lim, da’wah dan jihad yang terus-menerus sampai Allah memberikan
kemenangan atau mati syahid dijalan perjuangan ini. Inilah kehidupan
yang telah dilalui oleh Rasulullah saw. bersama dengan keluarga dan
para sahabatnya. Diteruskan oleh generasi salafu shalih berikutnya,
perjuangan yang tidak kenal henti.
As-Syahid Sayyid Quttub menceritakan dalam muqaddimah Tafsirnya, “Hidup
dalam naungan AlQur’an adalah ni’mat. Ni’mat yang hanya diketahui
oleh siapa yang telah merasakannya. Ni’mat yang akan mengangkat umur,
memberkahi dan menyucikannya.”
Tujuan diturunkan Alqur’an
Wahai saudaraku, sesungguhnya Al-Quran diturunkan setidaknya dengan tiga tujuan:
1. Beribadah kepada Allah dengan membacanya.
2. Dipelajari isi dan kandungannya.
3. Diamalkan.
Adapun yang pertama [beribadah kepada Allah dengan membacanya] dalinya adalah dua hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam.
Hadits pertama
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ
عُثْمَانَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى قَال سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ
الْقُرَظِيَّ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ
حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ
حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
وَيُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ ابْنِ
مَسْعُودٍ وَرَوَاهُ أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَفَعَهُ
بَعْضُهُمْ وَوَقَفَهُ بَعْضُهُمْ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ أَبُو عِيسَى
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ سَمِعْت
قُتَيْبَةَ يَقُولُ بَلَغَنِي أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ الْقُرَظِيَّ
وُلِدَ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَمُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ يُكْنَى أَبَا حَمْزَةَ
(TIRMIDZI – 2835) : Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Abu Bakar
Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Adl dlahhak bin Utsman dari
Ayyub bin Musa ia berkata; Aku mendengar Muhammad bin Ka’ab Al Quradli
berkata; Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf
dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan
satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku
tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu
huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.” Selain jalur
ini, hadits ini juga diriwayatkan dari beberapa jalur dari sahabat
Ibnu Mas’ud. Abul Ahwas telah meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Mas’ud,
sebagian perawi merafa’kannya (menyambungkannya sampai kepada Nabi)
dan sebaian yang lainnya mewaqafkannya dari sahabat Ibnu Mas’ud. Abu
Isa berkata; Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini, aku telah
mendengar Qutaibah berkata; telah sampai berita kepadaku bahwa Muhammad
bin Ka’ab Al Quradli dilahirkan pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam masih hidup, dan Muhammad bin Ka’ab di juluki dengan Abu
Hamzah.
Sumber : Tirmidzi [sanadnya shahih]
Kitab : keutamaan Al Qur`an
Bab : Membaca satu huruf alquran dan ganjarannya
No. Hadist : 2835
Kitab : keutamaan Al Qur`an
Bab : Membaca satu huruf alquran dan ganjarannya
No. Hadist : 2835
Hadits kedua
حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ وَهُوَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ
قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَكَأَنَّهُمَا فِي كِلَيْهِمَا وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَ مُعَاوِيَةَ بَلَغَنِي
(MUSLIM – 1337) : Telah menceritakan
kepadaku Al Hasan bin Ali Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Abu
Taubah ia adalah Ar Rabi’ bin Nafi’, telah menceritakan kepada kami
Mu’awiyah yakni Ibnu Sallam, dari Zaid bahwa ia mendengar Abu Sallam
berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Umamah Al Bahili ia berkata;
Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at
kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah
Zahrawain, yakni surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan
datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi
pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam
formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al Baqarah, karena dengan
membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan
menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan)
oleh tukang-tukang sihir.” Mu’awiyah berkata; “Telah sampai
(khabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir.” Dan
telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah
mengabarkan kepada kami Yahya yakni Ibnu Hassan, Telah menceritakan
kepada kami Mu’awiyah dengan isnad ini, hanya saja ia mentatakan; “Wa
Ka`annahumaa fii Kilaihimaa.” dan ia tidak menyebutkan ungkapan
Mu’awiyah, “Telah sampai (khabar) padaku.”
Sumber : Muslim
Kitab : Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar
Bab : Keutamaan membaca Al-Qur’an dan surat al Baqarah
No. Hadist : 1337
Kitab : Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar
Bab : Keutamaan membaca Al-Qur’an dan surat al Baqarah
No. Hadist : 1337
Adapun yang kedua [dipelajari isi dan kandungannya] maka dalilnya adalah firman Allah:
Muhammad :24
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?
Terakhir, yang ketiga [diamalkan] maka dalilnya adalah hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam:
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا يَحْيَى أَنَّ زَيْدًا حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلَّامٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
(MUSLIM – 328) : Telah menceritakan
kepada kami Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami Habban bin
Hilal telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada
kami Yahya bahwa Zaid telah menceritakan kepadanya, bahwa Abu Sallam
telah menceritakan kepadanya dari Abu Malik al-Asy’ari dia berkata, “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersuci adalah setengah dari
iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdulillah
keduanya memenuhi, atau salah satunya memenuhi apa yang ada antara
langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah petunjuk,
kesabaran adalah sinar, dan al-Qur’an adalah hujjah untuk amal kebaikanmu dan hujjah atas amal kejelekanmu. Setiap manusia adalah berusaha, maka ada orang yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau menghancurkannya.”
Sumber : Muslim
Kitab : Thaharah
Bab : Keutamaan wudlu
No. Hadist : 328
Kitab : Thaharah
Bab : Keutamaan wudlu
No. Hadist : 328
kesimpulan
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa
ajaran Islam ini adalah ajaran yang paling sempurna, karena memang
semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan buang air besar sampai
urusan negara, Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya. Alloh
berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam
menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)
Salman Al-Farisi berkata,“Telah
berkata kepada kami orang-orang musyrikin, ‘Sesungguhnya Nabi kamu
telah mengajarkan kepada kamu segala sesuatu sampai buang air besar!’
Jawab Salman, ‘benar!” (Hadits Shohih riwayat Muslim). Semua ini
menunjukkan sempurnanya agama Islam dan luasnya petunjuk yang tercakup
di dalamnya, yang tidaklah seseorang itu butuh kepada petunjuk
selainnya, baik itu teori demokrasi, filsafat atau lainnya; ataupun
ucapan Plato, Aristoteles atau siapa pun juga.
Meskipun begitu luasnya petunjuk Islam,
pada dasarnya pokok ajarannya hanyalah kembali pada tiga hal yaitu
tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Inilah inti ajaran para Nabi
dan Rosul yang diutus oleh Alloh kepada ummat manusia. Maka barangsiapa
yang tidak melaksanakan ketiga hal ini pada hakikatnya dia bukanlah
pengikut dakwah para Nabi. Keadaan orang semacam ini tidak ubahnya
seperti orang yang digambarkan oleh seorang penyair,
Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila,
namun laila tidak mengakui perkataan mereka
namun laila tidak mengakui perkataan mereka
Berserah Diri Kepada Alloh Dengan Merealisasikan Tauhid
Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada
Alloh dengan tauhid, yakni mengesakan Alloh dalam setiap peribadahan
kita. Tidak boleh menujukan satu saja dari jenis ibadah kita kepada
selain-Nya. Karena memang hanya Dia yang berhak untuk diibadahi. Dia
lah yang telah menciptakan kita, memberi rizki kita dan mengatur alam
semesta ini, pantaskah kita tujukan ibadah kita kepada selain-Nya, yang
tidak berkuasa dan berperan sedikitpun pada diri kita?
Semua yang disembah selain Alloh tidak
mampu memberikan pertolongan bahkan terhadap diri mereka sendiri sekali
pun. Alloh berfirman, “Apakah mereka mempersekutukan dengan
berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedang
berhala-berhala itu sendiri yang diciptakan. Dan berhala-berhala itu
tidak mampu memberi pertolongan kepada para penyembahnya, bahkan kepada
diri meraka sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi
pertolongan.” (Al -A’rof: 191-192)
Semua yang disembah selain Alloh tidak memiliki sedikitpun kekuasaan di alam semesta ini. Alloh berfirman, “Dan
orang-orang yang kamu seru selain Alloh tiada mempunyai apa-apa
walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada
mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat
memperkenankan permintaanmu, dan pada hari kiamat mereka akan
mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan
kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13-14)
Tunduk dan Patuh Kepada Alloh Dengan Sepenuh Ketaatan
Pokok Islam yang kedua adalah adanya
ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Alloh. Dan inilah
sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan
dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan
terhadap perintah-perintah Alloh dan Rosul-Nya dan menjauhi apa-apa
yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Alloh dan hanya
mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di
sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.
Kita tidak dibiarkan mengatakan sudah
beriman lantas tidak ada ujian yang membuktikan kebenaran pengakuan
tersebut. Alloh berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka
dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji
lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” ( Al-Ankabut: 2-3)
Orang yang beriman tidak boleh memiliki pilihan lain apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan keputusan. Alloh berfirman, “Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan
yang beriman, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan
barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat
dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)
Orang yang beriman tidak membantah
ketetapan Alloh dan Rosul-Nya akan tetapi mereka mentaatinya lahir
maupun batin. Alloh berfirman, “Sesungguhnya jawaban orang-orang
beriman, bila mereka diseru kepada Alloh dan Rosul-Nya agar rosul
menghukum di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami
patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nur: 51)
Memusuhi dan Membenci Syirik dan Pelakunya
Seorang muslim yang tunduk dan patuh
terhadap perintah dan larangan Alloh, maka konsekuensi dari benarnya
keimanannya maka ia juga harus berlepas diri dan membenci perbuatan
syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan
sebenar-benarnya sebelum ia mencintai apa yang dicintai Alloh dan
membenci apa yang dibenci Alloh. Padahal syirik adalah sesuatu yang
paling dibenci oleh Alloh. Karena syirik adalah dosa yang paling besar,
kedzaliman yang paling dzalim dan sikap kurang ajar yang paling bejat
terhadap Alloh, padahal Allohlah Robb yang telah menciptakan,
memelihara dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua.
Alloh telah memberikan teladan kepada bagi kita yakni pada diri Nabiyulloh Ibrohim ‘alaihis salam agar berlepas diri dan memusuhi para pelaku syirik dan kesyirikan. Alloh berfirman, “Sesungguhnya
telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang
kamu sembah selain Alloh, kami mengingkari kamu dan telah nyata antara
kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu
beriman kepada Alloh saja.’” (Al-Mumtahanah: 4)
Jadi ajaran Nabi Ibrohim ‘alaihis salam
bukan mengajak kepada persatuan agama-agama sebagaimana yang
didakwakan oleh tokoh-tokoh Islam Liberal, akan tetapi dakwah beliau
ialah memerangi syirik dan para pemujanya. Inilah millah Ibrohim yang lurus! Demikian pula Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam
senantiasa mengobarkan peperangan terhadap segala bentuk kesyirikan dan
memusuhi para pemujanya. Inilah tiga pokok ajaran Islam yang harus
kita ketahui dan pahami bersama untuk dapat menjawab pertanyaan di atas
dengan jawaban yang yakin dan pasti. Dan di atas ketiga pokok inilah
aqidah dan syari’ah ini dibangun. Maka kita mohon kepada Alloh semoga
Alloh memberikan taufiq kepada kita untuk dapat memahami agama ini,
serta diteguhkan di atas meniti din ini. Wallohu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar