judul


widgeo.net

Senin, 26 Mei 2014

Misteri Buraq, Pesawat Jelajah Rasulullah SAW Dalam Isra-Mi'raj

Kalau dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan menemukan istilah “buraq” yang diartikan sebagai “Binatang kendaraan Nabi Muhammad Saw”, dia berbentuk kuda bersayap kiri kanan. Dalam pemakaian umum “buraq” itu berarti burung cendrawasih yang oleh kamus diartikan dengan burung dari sorga (bird of paradise). Sebenarnya “buraq” itu adalah istilah yang dipakai dalam AlQur’an dengan arti “kilat” termuat pada ayat 2/19, 2/20 dan 13/2 dengan istilah aslinya “Barqu”. Para sarjana telah melakukan penyelidikan dan berkesimpulan bahwa kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau 300 Kilometer perdetik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem paralax, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil dan dilintasi oleh sinar dalam waktu 8 menit.

Jarak sedemikian besar disebut 1 AU atau satu Astronomical Unit, dipakai sebagai ukuran terkecil dalam menentukan jarak antar benda angkasa. Dan kita sudah membahas bahwa Muntaha itu letaknya diluar sistem galaksi bimasakti kita, dimana jarak dari satu galaksi menuju kegalaksi lainnya saja sekitar 170.000 tahun cahaya. Sedangkan Muntaha itu sendiri merupakan bumi atau planet yang berada dalam galaksi terjauh dari semua galaksi yang ada diruang angkasa.
Amatlah janggal jika kita mengatakan bahwa buraq tersebut dipahami sebagai binatang atau kuda bersayap yang dapat terbang keangkasa bebas. Orang tentu dapat mengetahui bahwa sayap hanya dapat berfungsi dalam lingkungan atmosfir planet dimana udara ditunda kebelakang untuk gerak maju kemuka atau ditekan kebawah untuk melambung keatas.

Udara begitu hanya berada dalam troposfir yang tingginya 6 hingga 16 Km dari permukaan bumi, padahal buraq itu harus menempuh perjalanan menembusi luar angkasa yang hampa udara dimana sayap tak berguna malah menjadi beban. Dengan kecepatan kilat maka binatang kendaraan itu, begitu juga Nabi yang menaiki, akan terbakar dalam daerah atmosfir bumi, sebaliknya ketiadaan udara untuk bernafas dalam menempuh jarak yang sangat jauh sementara itu harus mengelakkan diri dari meteorities yang berlayangan diangkasa bebas.

Semua itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw bukanlah melakukan perjalanan mi’rajnya dengan menggunakan binatang ataupun hewan bersayap sebagaimana yang diyakini oleh orang selama ini.
Penggantian istilah dari Barqu yang berarti kilat menjadi buraq jelas mengandung pengertian yang berbeda, dimana jika Barqu itu adalah kilat, maka buraq saya asumsikan sebagai sesuatu kendaraan yang mempunyai sifat dan kecepatannya diatas kilat atau sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan sinar.
Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap tinggal dibumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai hanya dalam beberapa saat saja.
Untuk menerobos garis tengah jagat raya saja memerlukan waktu 10 milyard tahun cahaya melalui galaksi-galaksi yang oleh Garnow disebut sebagai fosil-fosil jagad raya dan selanjutnya menuju alam yang sulit digambarkan jauhnya oleh akal pikiran dan panca indera manusia dengan segala macam peralatannya, karena belum atau bahkan tidak diketahui oleh para Astronomi, galaksi yang lebih jauh dari 20 bilyun tahun cahaya.
Dengan kata lain mereka para Astronom tidak dapat melihat apa yang ada dibalik galaksi sejauh itu karena keadaannya benar-benar gelap mutlak.

Untuk mencapai jarak yang demikian jauhnya tentu diperlukan penambahan kecepatan yang berlipat kali kecepatan cahaya. Sayangnya kecepatan cahaya merupakan kecepatan yang tertinggi yang diketahui oleh manusia sampai hari ini atau bisa jadi karena parameter kecepatan cahaya belum terjangkau oleh manusia.
Dalam AlQur’an kita jumpai betapa hitungan waktu yang diperlukan oleh para malaikat dan ruh-ruh orang yang meninggal kembali kepada Tuhan: Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepadaNya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS. 70:4)
Ukuran waktu dalam ayat diatas ada para ahli yang menyebut bahwa angka 50 ribu tahun itu menunjukkan betapa lamanya waktu yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada Tuhan.

Namun bagaimanapun juga ayat itu menunjukkan adanya perbedaan waktu yang cukup besar antara waktu kita yang tetap dibumi dengan waktu malaikat yang bergerak cepat sesuai dengan pendapat para ahli fisika yang menyebutkan “Time for a person on earth and time for a person in hight speed rocket are not the same”, waktu bagi seseorang yang berada dibumi berbeda dengan waktu bagi orang yang ada dalam pesawat yang berkecepatan tinggi.

Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas dinyatakan dengan angka satu hari malaikat berbanding 50.000 tahun waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun elektron atau 1 tahun Bima Sakti = 225 juta tahun waktu sistem solar.
Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat = 50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy Ilahi, 10 Milyard tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun waktu malaikat.
Namun malaikat Jibril kenyataannya dalam peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad Saw itu hanya menghabiskan waktu 1/2 hari waktu bumi /maksimum 12 Jam/ atau = 1/100.000 tahun Jibril.
Kejadian ini nampaknya begitu aneh dan bahkan tidak mungkin menurut pengetahuan peradaban manusia saat ini, tetapi para ilmuwan mempunyai pandangan lain, suatu contoh apa yang dikemukakan oleh Garnow dalam bukunya Physies Foundations and Frontier antara lain disebutkan bahwa jika pesawat ruang angkasa dapat terbang dengan kecepatan tetap /cahaya/ menuju kepusat sistem galaksi Bima Sakti, ia akan kembali setelah menghabiskan waktu 40.000 tahun menurut kalender bumi.
Tetapi menurut sipengendara pesawat /pilot/ penerbangan itu hanya menghabiskan waktu 30 tahun saja. Perbedaan tampak begitu besar lebih dari 1.000 kalinya.
Contoh lain yang cukup populer, yaitu paradoks anak kembar, ialah seorang pilot kapal ruang angkasa yang mempunyai saudara kembar dibumi, dia berangkat umpamanya pada usia 0 tahun menuju sebuah bintang yang jaraknya dari bumi sejauh 25 tahun cahaya.
Setelah 50 tahun kemudian sipilot tadi kembali kebumi ternyata bahwa saudaranya yang tetap dibumi berusia 49 tahun lebih tua, sedangkan sipilot baru berusia 1 tahun saja. Atau penerbangan yang seharusnya menurut ukuran bumi selama 50 tahun cahaya pulang pergi dirasakan oleh pilot hanya dalam waktu selama 1 tahun saja.

Dari contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa jarak atau waktu menjadi semakin mengkerut atau menyusut bila dilalui oleh kecepatan tinggi diatas yang menyamai kecepatan cahaya.
Kembali pada peristiwa Mi’raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran dibumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi (semalam) atau 1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10-5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 X 10 -23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 X 19-11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma.
Nah, Barkah yang disebut dalam Qur’an yang melingkupi diri Nabi Muhammad Saw adalah berupa penjagaan total yang melindungi beliau dari berbagai bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga selama dalam perjalanan diruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi pernafasan Rasulullah Saw selama itu dan lain sebagainya.

Jadi, sekarang kita bisa mendeskripsikan tentang kendaraan bernama Buraq ini sedemikian rupa, apakah dia berupa sebuah pesawat ruang angkasa yang memiliki kecepatan diatas kecepatan sinar dan kecepatan UFO ? Ataukah dia berupa kekuatan yang diberikan Allah kepada diri Rasulullah Saw sehingga Rasul dapat terbang diruang angkasa dengan selamat dan sejahtera, bebas melayang seperti seorang Superman?
Sebagai suatu wahana yang sanggup membungkus dan melindungi jasad Rasulullah sedemikian rupa sehingga sanggup melawan/mengatasi hukum alam dalam hal perjalanan dimensi. Sekaligus didalamnya tersedia cukup udara untuk pernafasan Nabi Muhammad Saw dan penuh dengan monitor-monitor yang memungkinkan Nabi untuk melihat keluar ataupun juga monitor-monitor yang bersifat “Futuristik” , yaitu monitor yang memberikan gambaran kepada Rasulullah mengenai keadaan umatnya sepeninggal beliau nantinya.
Bukankah ada banyak juga hadist shahih yang mengatakan bahwa selama perjalanan menuju ke Muntaha itu Nabi Muhammad Saw telah diperlihatkan pemandangan- pemandangan yang luar biasa? Apakah aneh bagi Anda jika Nabi Muhammad Saw telah diperlihatkan oleh Allah (melalui monitor-monitor futuristik tersebut) terhadap apa-apa yang akan terjadi dikemudian hari? Apakah Anda akan mengingkari bahwa jauh setelah sepeninggal Rasul ada banyak sekali manusia-manusia yang mampu meramalkan ataupun melihat masa depan seseorang ?
Dalam dunia komputer kita mengenal virtual reality (VR) yaitu penampakan alam nyata ke dalam dimensi multimedia digital yang sangat interaktif sehingga bagaikan keadaan sesungguhnya. Apakah tidak mungkin Rasulullah telah merasakan fasilitas VR dari Allah Swt untuk mempresentasikan kepada kekasihNya itu surga dan neraka yang dijanjikanNya?

Anda pasti pernah mendengar sebutan “Paranormal” bukan? Jika anda mempercayai semua itu, maka apalah susahnya bagi anda untuk mempercayai bahwa hal itupun terjadi pada diri Rasulullah Saw, hanya saja bedanya bahwa semua itu merupakan gambaran asli dari Allah Swt yang sudah pasti kebenarannya tanpa bercampur dengan hal-hal yang batil.
Hal ini juga bisa kita buktikan dengan banyaknya ramalan-ramalan Nabi terhadap keadaan umat Islam setelah beliau tiada dan menjadi kenyataan tanpa sedikitpun meleset? Darimana Rasulullah dapat melakukannya jika tidak diperlihatkan oleh Allah sebelumnya ?
Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.
(QS. 2:269)
Hikmah dalam ayat 2:269 dan ayat-ayat lainnya, saya artikan sebagai kebijaksanaan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya, kebijaksanaan ini berarti sangat luas, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dunia atau akhirat, sebagai perwujudan dari Rahman dan RahimNya.
Didalam Hadist disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw berangkat ke Muntaha dengan ditemani oleh malaikat Jibril yang didalam AlQur’an surah 53:6 dikatakan memiliki akal yang cerdas. Dan dalam perjalanan itu Nabi diberikan kendaraan bernama Buraq yang kecepatannya melebihi kecepatan sinar.
Selanjutnya selama perjalanan Nabi banyak bertanya kepada malaikat Jibril tentang apa-apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya, ini menunjukkan bahwa Nabi dan Jibril berada dalam jarak yang berdekatan. Tidak mungkinkah Jibril ini yang mengemudikan Buraq untuk menuju ke Muntaha? Dalam kata lain, Jibril sebagai pilot dan Muhammad sebagai penumpang?
Bukankah Muhammad sendiri baru pertama kali itu mengadakan perjalanan ruang angkasa, sementara Jibril telah ratusan atau bahkan jutaan kali melakukannya didalam mengemban wahyu yang diamanatkan oleh Allah?
Jika dikatakan Nabi sebagai pilot, dari mana Nabi mengetahui arah tujuannya berikut tata cara pengemudian Buraq ini, apalagi ditambah dengan banyaknya visi-visi alias Virtual Reality yang diberikan oleh Allah kepada beliau selama perjalanan dan mengharuskannya mengajukan beragam pertanyaan kepada Jibril?
Namun jika kita kembalikan pada pendapat saya semula bahwa Jibril dalam hal ini berlaku sebagai pilot dan Nabi sebagai penumpang, maka semua pertanyaan dan keraguan yang timbul akan hilang.
Dalam hal ini Jibril adalah pilot terbang berpengalaman, ia juga sangat cerdas, sementara atas diri Nabi sendiri sudah diberikan oleh Allah Barqah disekeliling beliau, sehingga setiap perubahan yang terjadi dalam perjalanan, seperti goyangnya pesawat, tekanan gravitasi yang hilang, udara dan lain sebagainya tidak akan berpengaruh apa-apa pada diri Nabi yang mulia ini.
Dan keadaan yang tanpa pengaruh apa-apa itu memungkinkan bagi Nabi untuk mengadakan pertanyaan-pertanya an atas visi-visi yang dilihatnya itu sekaligus dapat melihatnya secara jelas/Virtual Reality .
Kembali pada Jibril yang senantiasa meminta izin didalam memasuki setiap lapisan langit kepada malaikat penjaga, itu dikarenakan bahwa mereka tidak mengenali Jibril yang berada didalam Buraq itu, sehingga begitu Jibril menjawab, mereka baru bisa mengenali suaranya dan melakukan pendeteksian secara visi keadaan dalam Buraq sehingga nyatalah bahwa yang datang itu benar-benar Jibril.
Didalam Hadist juga disebutkan bahwa malaikat penjaga langit itu juga menanyakan tentang identitas sosok manusia yang dibawa oleh malaikat Jibril, yang tidak lain dari Rasulullah Muhammad Saw. Dan dijelaskan oleh Jibril bahwa Rasulullah Saw diutus oleh Allah dan telah pula diperintahkan untuk naik ke Muntaha. (Hadist mengenai ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dan dinyatakan oleh jumhur ulama dari ahlussunnah sebagai Hadist yang shahih).
Hal ini memang berkesan lucu bagi sebagian orang, apalagi mengingat bahwa Nabi adalah manusia yang paling mulia yang mendapatkan kedudukan terhormat yang bisa dibuktikan dengan bersandingnya nama Allah dan nama beliau dalam dua buah khalimah syahadat yang tidak boleh dicampuri, ditambah atau dikurangi dengan berbagai nama lain karena tiada hak bagi makhluk lainnya mencampuri masalah ini.
Namun justru disinilah letak kebesaran Tuhan. Semuanya sengaja dipertunjukkan secara ilmiah kepada Nabi agar beliau dapat membuktikan sendiri betapa ketatnya penjagaan langit itu sebenarnya.
Seperti yang sudah dibahas di halaman artikel “Kajian Israk Miqraj” bahwa Muntaha itu terletak digalaksi terjauh, dimana Adam dulunya diciptakan dan ditempatkan pertama kali bersama Hawa.
Tetapi sejak Adam bersama istrinya dan juga Jin serta Iblis diusir oleh Allah dari sana, maka penjagaan terhadap tempat tersebut diperketat sedemikian rupanya, sehingga tidak memungkinkan siapapun juga kecuali para malaikat untuk dapat memasukinya, seperti yang termuat dalam ayat ke-8,9 dan 10 dari surah 72:
“…Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu.” (QS. 72:9) ”…kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.” (QS. 72:8) ”…Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai.” (QS. 72:9)
Dalam hal ini bisa diasumsikan bahwa yang disebut dengan lapisan langit pada Muntaha itu adalah berupa planet-planet yang terdekat dengan “bumi-muntaha” , hal ini saya hubungkan dengan pernyataan Qur’an pada surah 72:9 bahwa Jin atau Iblis itu dapat menduduki beberapa tempat.
Mampu menduduki tempat disana artinya mampu berdiam ditempat tersebut, dan karena tempat itu ganda (beberapa tempat), maka jelas tempat itu bukan Muntaha itu sendiri, namun tempat yang terdekat dari Muntaha.

Sesuai dengan kajian saya sebelumnya, bahwa Muntaha itu berupa bumi yang disekitarnya juga terdapat planet-planet, maka planet-planet itulah tempat atau posisi para syaithan itu berdiam dahulunya untuk mencuri dengar berita-berita langit.
Muntaha sendiri berarti “Dihentikan” atau bisa juga kita tafsirkan sebagai tempat terakhir dari semua urusan berlabuh. Tempat yang menjadi perbatasan segala pencapaian kepada Tuhan.

teratai

Sidrah berarti “Teratai” yaitu bunga yang berdaun lebar, hidup dipermukaan air kolam atau telaga. Uratnya panjang mencapai tanah dasar air tersebut. Bilamana pasang naik, teratai akan ikut naik, dan bila pasang surut diapun akan turun, sementara uratnya tetap terhujam pada tanah dasar tempatnya bertumbuh.
Teratai yang berdaun lebar menyerupai keadaan planet yang memiliki permukaan luas, sungguh harmonis untuk tempat kehidupan makhluk hidup. Teratai berurat panjang mencapai tanah dasar dimana dia tumbuh tidak mungkin bergerak jauh, menyerupai keadaan planet yang selalu berhubungan dengan matahari darimana dia tidak mungkin bergerak jauh dalam orbit zigzagnya dari garis ekliptik. Dan air dimana teratai berada menyerupai angkasa luas dimana semua planet yang ada mengorbit mengelilingi matahari.

Turun naik teratai dipermukaan air berarti orbit planet mengelilingi matahari berbentuk oval, bujur telur, dimana ada titik Perihelion yaitu titik terdekat pada matahari yang dikitarinya, begitupula ada titik Aphelion, titik terjauh dari matahari. Sewaktu planet berada di Aphelionnya dia bergerak lambat. Keadaan gerak demikian membantu kestabilan orbit setiap planet yang mulanya hanya didasarkan atas kegiatan magnet yang dimilikinya saja.
Allah sendiri tidak berposisi di Muntaha, meskipun Muntaha itu merupakan planet terjauh dan terpinggir dalam bentangan alam semesta sekaligus sebagai dimensi tertinggi, dimana mayoritas malaikat berada disana sembari memuji dan bertasbih kepada Allah, ia hanyalah sebagai suatu tempat ciptaan Allah yang pada hari kiamat kelak akan dileburkan pula dan semua isinya, termasuk para malaikat itu akan mati kecuali siapa yang dikehendakiNya saja (QS. 27:87), hanya Allah sajalah satu-satunya dimensi Tertinggi yang kekal dan abadi (QS. 2:255).

( KISAH ISRA’ MI’ROJ )

Kitab DARDIR ( KISAH ISRA’ MI’ROJ ) BAGIAN - 1


TERJEMAHKISAH ISRA’ MI’ROJ lil Imam Najmiddin Al Ghoithy (DARDIR Mi’raj)

Pada suatu ketika, saat malam telahtiba. Kerlap-kerlip bintang di langit cerah menjadi pesona yang begituberharga. Menjadi saksi akan kemuliaan seorang manusia. Saat itu bertepatantanggal 27 Rojab 11 kenabian, Nabiullah Muhammad SAW beristirahat. Tidur menyampingdi samping Hijir Ismail. Dekat Baitullah.
 Di samping kanan dan kiri beliau adadua orang pemuda (Sayyidina Hamzah dan Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib).Tiba-tiba di tempat tersebut, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan Mikail.Selain kedua malaikat itu masih ada satu malaikat lagi, yaitu Malaikat Isrofil.Kemudian ketiga malaikat itu membopong Nabiullah Muhammad hingga sumur Zam-Zam.Lantas Nabiullah Muhammad ditelentangkan di sana. Adapun yang menjadipenanggung jawabnya adalah Malaikat Jibril.

Di dalam sebuah riwayat lain dijelaskan bahwa: tiba-tiba atap rumah sayatersingkap. Lantas Malikat Jibril masuk. Setelah itu Jibrilmembedah/mengoperasi dada Nabiullah Muhammad. Dimulai dari bawahnya leherhingga sampai di bawahnya perut. Malaikat Jibril kemudian berucap kata kepadaMalaikat Mikail: “Ambillah bokor emas yang berisikan air Zam-Zam. Saya hendakmenyucikan hati dan batinnya (manah) Nabiullah Muhammad SAW. ” Setelah itu,Malikat Jibril mengeluarkan hatinya Nabiullah Muhammad SAW sampai tiga kali.Dan membuang semua kotoran yang terdapat di dalam batin Kanjeng Nabi. AdapunMalikat Mikail mondar-mandir sambil membawa tiga bokor emas yang di dalamnyaberisikan air Zam-Zam.

Setelah melakukan semua hal itu, kemudian membawa bokor emas yang isinya penuhdengan hikmah dan iman. Selanjutnya isi bokor tersebut ditumpahkan ke dalamhatinya Kajeng Nabi hingga batin beliau berisi penuh dengan sifat: sabar, alim,yakin, dan islam. Lantas dikembalikan seperti sediakala. Dan diberikan gelarkenabian oleh kedua malaikat tersebut.


Selanjutnya Kanjeng Nabi Muhammad disediakan kendaraan Buroq. Lengkap denganpelana dan kendalinya. Buroq adalah sejenis hewan yang berbuluh putih, tinggimelebihi Himar dan lebih pendek dari Bighol. Sekali melangkahkan kakinya.Sejauh mata memandang. Kedua telinganya selalu bergerak-gerak.

Saat naik gunung, kedua sukunya yang belakang memanjang. Dan saat turun gunung,kedua sukunya yang depan memanjang. Buroq itu memiliki sepasang sayap di keduapupuhnya. Kedua sayap itu berfungsi untuk membantu kecepatan larinya. Buroqberjingkrak-jingkrak memperlihatkan kekuatannya. Lantas Jibril meletakkan keduatangannya tepat di kepala Buroq. Dan berkata: “Tidakkah kamu malu, wahai Buroq?Demi Allah! Orang yang hendak menaikimu ini adalah orang yang paling mulia dihadapan Allah SWT.” Lantas Buroq tersipu malu hingga keringatnya berkucuranlaksana rerintik hujan. Dan dia pun tenang. Hingga Kanjeng Nabi naik di ataspunggungnya.

Buroq itu sebenarnya sudah pernah dinaiki oleh para nabi sebelum NabiullahMuhammad SAW. Sa’id bin Musayyap menjelaskan bahwa: “Buroq itu merupakankendaraannya Nabi Ibrahim AS yang biasanya dinaiki untuk bepergian ke BaitulHaram (Mekah)”.

Selanjutnya Nabiullah Muhammad berangkat dengan didampingi Malikat Jibril di sebelahkanan dan Malikat Mikail di sebelah kiri. Menurut keterangan Ibnu Sa’id:“Jibril bagian memegang tempat duduknya, Mikail memegang tali kendalinya”.
Setelah itu kembali melanjutkan perjalanannya hingga sampai di kebun kurma.Jibril berkata kepada Kanjeng Nabi: “Saya persilahkan Kanjeng Nabi untuk turun,dan bersedialah kiranya untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” SelanjutnyaKanjeng Nabi turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkatlagi. Jibril bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Mengertikah ya Baginda Rasul, ditempat manakah Baginda Rasul mengerjakan shalat tadi?” Kanjeng Nabi menjawab:“Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di Thoyyibah (Madinah)……Di tempat itulah kelak Baginda Rasul akan berhijrah.”
Tidak lama kemudian Buroq berangkat lagi dengan kecepatannya yang sangatkencang. Begitu sekali melangkahkan kakinya, sejauh mata memandang. Laksanakilatan halilintar sudah sampai tempat tujuan. Jibril berkata kepada KanjengNabi: “Saya persilahkan Kanjeng Nabi untuk turun, dan bersedialah kiranya untukmengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Kanjeng Nabi turun danmengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Jibril bertanyakepada Kanjeng Nabi: “Mengertikah ya Baginda Rasul, di tempat manakah Bagindamengerjakan shalat tadi?” Kanjeng Nabi menjawab: “Saya tidak tahu.” Jibrilberkata: “Baginda tadi mengerjakan shalat di Madin di dekat Sajaroh Musa (pohontempat Nabi Musa berteduh ketika keluar dari Mesir, sebab dikejar-kejar RajaFir’un).”

Lantas Kanjeng Nabi berangkat kembali: Buroq berlari dengan kencangnya. Danberhentilah kembali. Jibril pun berkata: “Saya persilahkan Kanjeng Nabi untukturun, dan bersedialah untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” SelanjutnyaKanjeng Nabi turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkatlagi. Jibril bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Mengertikah ya Baginda Rasul, ditempat manakah Baginda mengerjakan shalat tadi?” Kanjeng Nabi menjawab: “Sayatidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di Bukit Thursina. Tempatmunajatnya Nabi Musa AS dan tempat Nabi Musa AS beraudensi dengan Allah SWT.”
Terus Kanjeng Nabi melanjutkan perjalanannya kembali hingga tiba di tanah yangterlihat bangunan gedung-gedung Negeri Syam berdiri kokoh. Jibril berkata:“Saya persilahkan Kanjeng Nabi untuk turun, dan bersedialah untuk mengerjakanshalat di tempat ini.” Selanjutnya Kanjeng Nabi turun dan mengerjakan shalatsunnat dua rakaat.

Kemudian berangkat lagi. Buroq berlari kencang. Larinyalaksana menyambar-nyambar. Jibril bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Mengertikah yaBaginda Rasul, di tempat manakah Baginda mengerjakan shalat tadi?” Kanjeng Nabimenjawab: “Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di Betlehem,tanah tempat Nabi Isa dilahirkan.”

Dan di tengah-tengah perjalanan, saat Kanjeng Nabi masih berada di ataspunggung Buroq. Tiba-tiba Kanjeng Nabi melihat Jin Iffrit (Jin yang jahat).Yang bergegas mengikuti Kanjeng Nabi dengan membawa sebuah obor. Setiap kaliKanjeng Nabi menoleh ke belakang, Jin Iffrit terlihat masih ada. SelanjutnyaJibril berkata: “Apakah Baginda Rasul menginginkan saya untuk mengajari bagindakalimat-kalimat, apabila kalimat-kalimat itu Baginda baca, tentu akan padamobor tersebut dan Iffrit akan tersungkur.”

Menjawab Kanjeng Nabi: :……Silahkan.” dan Jibril pun akhirnya berkata::……Baginda Rasul saya persilahkan untuk membaca: Saya berlindung kepada AllahYang Maha Mulia. Dan kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Yang tidak dapatdilanggar oleh orang-orang shalih dan jahat. Serta dari bala’-kejahatan yangturun dari langit. Dan bahaya kejahatan yang naik ke langit. Pun dari kejahatanmakhluk melata di bumi. Dan dari kejahatan hewan-hewan yang keluar dari dalambumi (seperti ular, kalajengking, dan sebagainya). Serta dari bahayafitnah-godaan di waktu malam dan siang tiba. Pun dari bencana yang datangnyatiba-tiba ketika waktu siang dan malam. Kecuali apabila datang sesuatu yangmembawa rahmat-kesehatan. Wahai Dzat yang Maha Pengasih.” Dan akhirnya JinIffrit pun tersungkur.

Kemudian Kanjeng Nabi melanjutkan perjalanannya kembali hingga tiba di sebuahumat yang saat itu sedang bercocok tanam. Namun anehnya, tanaman yang baru sajaditanam itu dengan seketika bisa dipanen. Setiap kali dipanen, tanaman itulangsung kembali seperti semula. Kanjeng Nabi bertanya kepada Malikat Jibril:“Apa maksudnya dari semua itu?” Jibril menjawab: “Semua itu merupakan contohdari umat Baginda Rasul yang berjihad berjuang fi sabilillah. Satu amal shalihakan dilipat gandakan pahalanya hingga tujuh ratus kebaikan …… Serta contohnyaorang-orang yang suka berinfaq harta benda, tenaga, dan pikirannya gunamenyiarkan agama islam. Semua itu adalah sebagai ganti dari Allah SWT.

Selanjutnya Kanjeng Nabi mencium aroma yang sangat sedap keharumannya. KanjengNabi bertanya: “Jibril, aroma harum apakah ini?” Jibril menimpali: “Ini adalaharoma harum Ibu Masyitoh. Seorang wanita yang bekerja sebagai juru sisir RajaFir’un dan putri-putrinya. Suatu ketika, Masyito menyisir rambut putrinya RajaFir’un. Tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dengan sepontan Ibu Masyitoh bibirnyamengucap: ….. Dengan menyebut nama Allah, dzat yang Maha Pengasih danPenyayang. Celakalah Fir’un.” Putri Fir’un mendengar ucapan itu. Dia terkejutdan bertanya: “Apakah kamu mempunyai tuhan selain Bapak saya?” Masyitohmenjawab: “Ya!”. Putri Fir’un bertanya kembali: “Beranikah kamu, saya laporkankepada bapak saya atas apa yang baru saja kamu ucapkan?” Masyitoh menjawab:“Silahkan!” Lantas Putri Raja Fir’un tersebut melaporkan semua perkataan yang telahdiucapkan Masyitoh kepada Raja Fir’un. Selanjutnya Fir’un memanggil Msyitohuntuk menghadap dan bertanya: “Apakah kamu mempunyai tuhan selain saya?”Kemudian Masyitoh pun menjawabnya dengan tegas: “Iya, benar. Tuhan saya dantuhan Baginda Raja itu adalah Allah SWT.”

Dewi Msyitoh itu memiliki dua putra laki-laki dan seorang suami. Setelah ituRaja Fir’un memanggil ke hadapannya dengan maksud ingin membujuk danmempengaruhi agar Masyitoh dan suaminya berkenan meninggalkan agamanya. NamunMasyitoh dan suaminya tetap tidak mau murtad (menolaknya). Fir’un kemudianberkata: “Kalau begitu, saya akan benar-benar menghukum mati kalian berdua!”Dewi Msyitoh menjawabnya: “Silahkan! Saya hanya meminta yang terbaik dariBaginda Raja. Apabila kami semua jadi dibunuh, saya berharap agar ditempatkandalam satu tempat yang sama dan dikubur dalam satu kuburan yang sama pula.”Fir’un membalasnya: “Ini jadi hakmu. Saya akan melaksanakannya.” Raja Fir’unlalu memberi perintah agar segera menyiapkan ke’nce’ng dembogo (penggorenganyang terbuat dari tembaga yang sagat besar). Dan diisi dengan minyak Zaitun.Pun dipanaskan hingga mendidih. Selanjutnya Raja Fir’un memerintahkan agarMasyitoh beserta putra-putrinya segera dimasukan ke dalam tempat penggorengantersebut.

Tidak lama kemudian, mereka semua di masukkan satu persatu hingga anaknya yangmasih bayi dan baru berumur delapan bulan. Saat itu hati Dewi Masyito sempatragu-ragu, keimanannya goyah. Lantas bayi yang masih menyusu itu berkata:“Wahai Ibuku! Bersedialah Ibu untuk segera mencelupkan diri. Janganlahmaju-mundur, karena sesungguhnya Ibu itu memegang teguh sebuah kebenaran.”Selanjutnya Masyito beserta putra-putrinya dimasukkan ke dalam tempatpenggorengan yang mendidih tersebut.
Perowi hadits berkata: “Bayi yang sudah sanggup berbicara semenjak ia berada didalam ayunan itu ada empat: 1) Bayinya Dewi Masyitoh, 2) Bayi yang menjadisaksinya Nabi Yusuf, 3) Bayi saksinya Juraij, 4) Bayi Nabi Isa bin Maryam AS.”

Lantas Kanjeng Nabi melanjutkan perjalanannya kembali. Dalam perjalananberikutnya, beliau bertemu dengan sekelompok orang yang memukul-mukul kepalanyasendiri dengan palu godam hingga kepalanya pecah. Tidak lama kemudian kepalatersebut kembali utuh seperti sediakala. Kemudian orang-orang tersebut kembalimemukulinya lagi dengan tiada henti-hentinya. Kanjeng Nabi bertanya: “Jibril,siapa orang-orang tersebut?” Jibril menjawab: “Mereka adalah gambaran dariorang-orang yang berat dan bermalas-malasan dalam mengerjakan shalat maktubah.”

Setelah itu, Kanjeng Nabi meneruskan perjalanannya hingga bertemu dengansekelompok orang yang semuanya setengah telanjang (hanya bercawat. Sekedarmenutupi kemaluannya saja) yang digembalakan seperti unta dan kambing(digiring). Orang-orang tersebut memakan tumbuh-tumbuhan yang berduri danZakum. Bara dan batu mengangah dari neraka Jahannam. Kanjeng Nabi bertanya:“Siapa orang-orang tersebut?” Jibril menjawab: “Mereka adalah contoh darisebagian umat Baginda Rasul yang sudah waktunya mengeluarkan zakat namun engganmengeluarkan zakat. Yang seperti itu, bukanlah Allah yang menyengsarakannya,(namun akibat dari perbuatannya sendiri yang menyengsarakannya).”

Lantas Kanjeng Nabi meneruskan perjalanannya kembali. Kemudian bertemulahbeliau dengan sekelompok orang yang jumlahnya sangatlah banyak. Mereka menunggudaging matang yang masih segar yang berada di dalam kuwali (cawan besar) dandaging lain yang masih mentah serta busuk. Anehnya, orang-orang tersebutmemakan daging yang busuk dan meninggalkan daging yang matang lagi enak.Kanjeng Nabi berkata: “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalahcontohnya orang laki-laki dari umat Baginda Rasul yang sudah memiliki istriyang halal dan bagus, namun masih saja melakukan perbuatan zinah dengan wanitalain yang tidak halal serta buruk. Hingga lelaki tersebut menidurinya sampaipagi tiba. Serta contohnya seorang wanita yang sudah mempunyai suami halal danbaik, namun masih saja melakukan perbuatan zinah dengan lelaki lain yang buruk.Serta tidur bersama lelaki tersebut hingga pagi tiba.”

Kanjeng Nabi meneruskan kembali perjalanannya lantas bertemu dengan sebatangpohon yang penuh dengan duri melintang di tengah-tengah jalan. Hendak menyobekbaju dan menyakiti sekujur tubuh orang-orang yang lewat di tempat itu. KanjengNabi bertanya: “Maksudnya apa semua ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Semuaini adalah sebagian contoh dari umat Baginda Rasul yang senang begadang dipinggir jalan dan dalam begadangnya tersebut, mereka kerap membuat usil kepadaorang-orang yang hendak melintas di depannya, sementara orang yang melintastadi hendak melakukan perbuatan baik dan mulia.” Kemudian Jibril membaca sebuahayat: “Dan janganlah kamu sekalian begadang di tepi-tepi jalan dengan maksudmengganggu dan berbuat usil kepada orang-orang yang hendak lewat, dan janganlahkalian semua menghalang-halangi agama Allah SWT.” (Al-Akhzab:56).

Selanjutnya Kanjeng Nabi meneruskan perjalanannya kembali hingga bertemu denganorang-orang yang berenang di sungai darah yang dilempari bebatuan. Kanjeng Nabibertanya: “Apa artinya semua ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Semua itumerupakan sebagian contoh dari orang-orang yang kerap memakan harta riba.”

Setelah itu Kanjeng Nabi berangkat kembali untuk melanjutkan perjalanannya.Beliau kemudian bertemu dengan orang-orang yang mengumpulkan kayu bakar, yangmengikat kayu tersebut dalam satu ikatan yang besar. Mereka tidak kuatmemanggul kayu-kayu tersebut namun justru malah ditambahi beban kayu lagi.Kanjeng nabi berkata: “Apakah maksud semua itu Jibril?” Jibril menjawab: “Semuaitu adalah sebagian contoh dari umat Baginda Rasul yang sudah banyak menerimatanggungan dan amanah dari sesamanya. Mereka sudah tidak mampu lagimelaksanakan tanggungan dan amanah tersebut namun masih berkenan menerimabahkan masih mencari-cari tanggungan dan amanah lagi. (seperti: hutang belumdibayar, namun sudah hutang lagi, dan hutang lagi)”.

Kemudian Kanjeng nabi berangkat lagi dan bertemu dengan sekelompok orang yangsaling mengguntingi lisan dan bibirnya sendiri-sendiri dengan menggunakan guntingbesi. Setiap kali digunting, lisan dan bibirnya terputus. Setelah itu kembaliutuh seperti semula. Begitu seterusnya. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa merakawahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah ahli fitnah (suka memfitnah) danmerupakan sebagian contoh dari umat Baginda Rasul yang ahli nasihat. Ahlimemberi pembelajaran kepada orang banyak. Suka mengajak kepada kebaikan dankemaslahatan namun dirinya sendiri tidak pernah mengerjakannya (tindakanmenasehatinya hanya berorientasi pada harta, tahta, kedudukan, dan sukadimuliakan).”

Setelah itu, Kanjeng Nabi berjumpa dengan sekelompok kaum yang mencakar-cakarwajah dan dadanya sendiri-sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga yangsangat tajam. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibrilmenjawab: “Mereka adalah sebagian contoh dari oran-orang yang suka memakandaging manusia (kanibal). Artinya: orang-orang tersebut adalah orang-orang yangahli mengumpat, senang menyebarluaskan aib orang lain. Senang membuat nama baikorang lain menjadi tercemar.”

Kanjeng Nabi berangkat meneruskan perjalanannya kembali, lantas menjumpaisebuah lubang yang sangat kecil. Dari dalamnya keluar sapi yang sangat besar.Sapi tersebut berusaha ingin masuk ke dalam lubang yang sangat kecil itu lagi,namun tidak bisa masuk. Kanjeng Nabi bertanya: “Apa maksud dari semua iniJibril?” Jibril menjawab: “Semua ini adalah sebagian contoh dari umat BagindaRasul yang salah berbicara. Mereka sudah terlanjur berbicara sedangkan ucapanyang diutarakan tadi adalah ucapan yang bersifatpenting-rahasia-berbahya-merusak di dunia dan akhirat. Namun pada akhirnyamereka menyesali semua ucapannya tadi. Tentu saja ucapan tersebut tidak dapatditarik kembali.”

Dalam penjelasan isra’ mi’raj tersebut, Kanjeng Nabi tiba-tiba dipanggil-panggiloleh seseorang dari arah kanan: “Wahai Muhammad! Bersedialah kamu untukberhenti sebentar. Saya hendak bertanya sesuatu kepadamu.” Namun Kanjeng Nabitidak menolehkan kepalanya sedikitpun dan enggan menjawab seruan orangtersebut. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab:“Itu adalah seruan dari orang Yahudi. Ingatlah! Seumpama Baginda Rasul tadiberkenan menjawab seruan itu, sudah barang tentu umat Baginda Rasul akanmenjadi Yahudi semuanya.”

Lantas Kanjeng Nabi berangkat lagi. Tiba-tiba beliau dipanggil-panggilseseorang dari arah kiri: “Wahai Muhammad, saya meminta kamu untuk berhentisejenak dan menunggu saya. Saya ingin bertanya sesuatu hal kepadamu.” NamunKanjeng Nabi tidak menghiraukannya. Kanjeng Nabi berkata: “Siapa lagi itu yaJibril?” Jibril menjawab: “Itu adalah seruan yang berasal dari orang Nasrani.Ingatlah! Seumpama Baginda Rasul menjawab panggilan orang tersebut, tentu umatBaginda Rasul akan menjadi Nasrani semuanya.”

Selanjutnya Kanjeng Nabi berangkat lagi. Tiba-tiba beliau berjumpa denganseorang wanita yang kedua lengannya terbuka. Dia memakai perhiasan yang serbaindah. Dia kemudian memanggil-manggil: “Wahai Muhammad, bersedialah kamu untukberhenti sebentar saja. Saya hendak bertanya kepadamu tentang suatu hal.” NamunKanjeng Nabi enggan berhenti, tidak menoleh, dan tidak menghiraukannya. KanjengNabi berkata: “Siapa wanita tersebut ya Jibril?” Jibril menjawab: “Itulahdunia. Seumpama Baginda Rasul tadi menjawabnya, sudah barang tentu seluruh umatBaginda Rasul akan memilih kehidupan dunia dan enggan memperhatikan kehidupanakhirat.” Dikisahkan dalam sebuah syair:

“Ingatlah: bahwa sesungguhnya dunia itu hanyalah tempat bersinggah bagiseseorang. Menetap di kala malam hari dan ketika pagi tiba, ia akan segerapergi lagi.”

Kemudian Kanjeng Nabi berangkat untuk melanjutkan perjalanannya kembali.Tiba-tiba beliau berjumpa dengan orang tua di tepi jalan. Diamemanggil-manggil: “Wahai Muhammad! Kemarilah sebentar!” Jibril berkata:“Bergegaslah dalam melangkah ya Rasulullah!” Lantas Kanjeng Nabi bertanya:“Siapakah orang tua tersebut ya Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalah musuhAllah SWT. Dia tidak lain adalah Iblis. Dia berusaha untuk menggoda BagindaRasul agar berkenan mengikuti perbuatannya.”

Kanjeng Nabi mengayunkan kakinya kembali. Tiba-tiba berjumpa dengan seorangwanita yang sudah lanjut usia. Wanita tersebut berada di tepi jalan. Diamemanggil-manggil kepada Kanjeng Nabi: “Wahai Muhammad! Saya mohon kepadamuagar kamu berkenan untuk berhenti sejenak! Hamba hendak bertanya kepadamu.”Kanjeng nabi tidak menolehnya dan bahkan tidak menghiraukannya. Lantas KanjengNabi berkata: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Itu adalah sedikitgambaran dari alam dunia yang usianya sudah sangat tua renta (sudah sangatdekat dengan datangnya hari kiamat).”
Setelah itu, Kanjeng Nabi melanjutkan perjalanannya kembali hingga sampai diBaitul Maqdis (Palestina). Beliau masuk lewat pintu gerbang Al-Yamani (kanan).Lantas Kanjeng Nabi turun dari Buroq dan mengikat Buroq tersebut di dekatMasjidil Aqsho. Di mana tempat itu adalah tempat yang dahulu pernah dijadikanoleh para Nabi untuk mengikat Buroqnya
Menurut salah satu riwayat: Malaikat Jibril mendekati sebuah batu yang sangatbesar. Batu tersebut kemudian dilubangi oleh Jibril. Dan Buroq pun akhirnya diikat di bati tersebut. Lantas Kanjeng Nabi masuk ke dalam Masjidil Aqsho melalui pintu yang dicondongi matahari dan rembulan ketika baru terbit.Selanjutnya Kanjeng Nabi mengerjakan shalat dua rakaat berjamaah dengan MalikatJibril.

Tidak lama kemudian, berkumpullah para nabi. Kanjeng Nabi melihat danmemperhatikan para nabi tersebut, sebagian ada yang masih berdiri, ada yangruku’, ada pula yang sujud. Lantas ada yang beradzan dan dilanjutkan iqomah.Para nabi itu berdiri dan berbaris semuanya hingga menjadi beberapa shaf.Semuanya menunggu siapa yang akan menjadi imam shalat jamaah saat itu. KemudianJibril memegang tangan Kanjeng Nabi dan menariknya ke depan untuk menjadi imam.Selanjutnya Kanjeng Nabi pun menjadi imam dari para nabi untuk mengerjakanshalat dua rakaat.

Menurut riwayat Imam Ka’ab: “Malaikat Jibril yang beradzan. Lantas seluruhmalaikat pun berbondong-bondong turun dari langit. Dan Allah SWT mengumpulkanseluruh nabi dan rasul. Selanjutnya Kanjeng Nabi menjadi imam shalat dariseluruh malaikat, nabi, dan rasul.”
Setelah salam, Jibril bertanya: “Wahai Muhammad! Tahukah kamu, siapaorang-orang yang shalat di belakangmu tadi?” Kanjeng Nabi berkata: “Saya tidaktahu!” Jibril menimpali: “Semuanya tadi, adalah para nabi dan rasul yang diutusoleh Allah SWT.”

Lantas para nabi dan rasul tersebut saling memuji Allah dengan puji-pujian yangbagus. Kemudian Kanjeng Nabi berkata: “Kamu sekalian saling memuji-muji kepadaTuhanmu. Dan saya juga akan memuja dan memuji-muji kepada Tuhan saya.”

Selanjutnya Kanjeng Nabi bergegas mengucap puji-pujian: “Segala puji itu hanyamilik Allah. Dzat yang telah mengutusku sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dankepada manusia dengan memberi kebahagiaan surga bagi orang yang patuh-taat. Danmenakut-nakuti dengan neraka bagi orang yang durhaka. Dan Allah SWT telahmenurunkan Al-Quran kepadaku yang di dalamnya itu terdapatketerangan-keterangan tentang seluruh hal. Dan telah menjadikan umatku lebihbagus dari seluruh umat terdahulu. Yang dilahirkan untuk manusia yang lain. Dantelah dijadikan umatku menjadi umat yang “tengah-tengah-sedengan-dan pilihan”.Dan telah dijadikan umatku sebagai umat yang pertama dalam permulaanmenakdirkan makhluk dan wujud umat yang terakhir. Dan Allah telah melapangkandada dan hatiku, serta mengampuni segala dosaku. Dan telah mengangkat derajatserta namaku. Dan yang telah menjadikanku nabi yang paling awal dan palingakhir.”

Nabi Ibrahim AS berkata: “Sebab perkataan Kanjeng Nabi tersebut, Kanjeng Nabidimuliakan Allah SWT melebihi kemuliaan seluruh nabi dan rasul.” Saat ituKanjeng Nabi merasakan rasa haus yang begitu dahsyat. Jibril kemudian datangdengan membawa segelas arak dan segelas susu. Lantas Kanjeng Nabi mengambil danmemilih susu. Jibril berkata: “Baginda Rasul telah memilih fitrah (agamaislam). Seumpama Baginda Rasul memilih arak, sudah dapat dipastikan bahwa umatBaginda Rasul akan banyak yang bersifat durhaka dan tidak ada yang menaatiBaginda Rasul, kecuali hanya sedikit saja.

Menurut riwayat lain: “Sesungguhnya gelas yang telah dihidangkan itu ada tiga:adapun gelas yang nomor tiga tersebut berisi air putih. Jibril berkata:Seumpama Baginda Rasul tadi meminum air putih, sudah barang tentu umat BagindaRasul akan mati tenggelam dalam kemaksiatan.
Dalam riwayat lain juga dijelaskan: “Gelas yang nomor tiga tersebut adalah maduyang merupakan pengganti dari air putih.”

Dan sesungguhnya Kanjeng Nabi juga melihat dan memperhatikan beberapa bidadariyang berada di sebelah kiri batu besar. Setelah itu beliau bersalam danbidadari-bidadari itu pun menjawab salam beliau. Selanjutnya Kanjeng Nabibertanya kepada para bidadari tersebut. Bidadari menjawabnya dengan perangaiwajah yang berseri-seri dan membahagiakan pandangan.

Kanjeng Nabi lantas disediakan tangga. Sebuah alat untuk naiknya roh-rohmanusia yang beriman. Tangga tersebut sangatlah bagus dan indah yang tiadabandingnya. Satu tangga terbuat dari perak dan satu tangga yang lain terbuatdari emas. Tangga tersebut berasal dari surga Firdaus. Tangga tersebutdisemprot dengan lu’lu’-mutiara. Di sebelah kanan tangga ada malaikat. Disebelah kirinya juga terdapat malaikat.

Lantas Kanjeng Nabi naik tangga bersamaan dengan malaikat Jibril hinggakeduanya tiba di sebuah pintu dari beberapa pintu langit dunia, yang disebutdengan Babul Hafadhah. Di pintu tersebut terdapat penjaganya yang bernamaMalaikat Ismail. Beliau yang diperintahkan sebagai penjaga langit dunia yangbertempat di angkasa. Selama-lamanya Malikat Ismail tidak pernah naik ke langitatasnya dan beliau juga tidak akan pernah turun ke bumi, kecuali ketika hariwafatnya Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Adapun jumlah pengawal Malaikat Ismail adalah tujuh puluh ribu malaikat. Dansetiap satu orang malaikat ditemani tujuh puluh ribu malaikat. SelanjutnyaMalaikat Jibril mengetuk pintu langit. Dan ditanyalah Malaikat Jibril: “Siapaitu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapakamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalah sekalilagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkan masuk! Selamat datang! Sayabersyukur atas anugrah dari Allah SWT, sebab saya dapat bertatap muka denganBaginda Rasul dan menjadi bagian dari keluarga Baginda Rasul. Semoga dimuliakanAllah SWT, saudara: yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telahberkenan menyampaikan agama Allah SWT. Demikianlah sebagus-bagusnya saudaraseiman, wakilnya Allah SWT, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Lantas pintu langit pun segera di buka, tatkala keduanya masuk. Tiba-tiba ditempat tersebut berjumpa dengan Nabi Adam AS, yaitu bapak dari seluruh umatmanusia. Adapun keberadaannya masih tetap sama seperti ketika diciptakan olehAllah SWT (kulitnya tetap putih kemerah-merahan dan bercahaya, tinggi badanyakira-kira 60 dziro’ atau kurang lebih 29 meter. Lebar dadanya kurang lebih 7dziro’ atau kurang lebih 3 meter)

Didatangkan kepada Nabi Adam AS arwahnya para nabi dan keturunannya yangberiman. Lantas Nabi Adam berkata: “Roh suci dan sukma yang bagus! Sama-samamasuklah kalian semua di dalam surga Firdaus / Illiyyin.”

Lantas didatangkan lagi kepada Nabi Adam AS roh-roh keturunannya yang sama-samakafir. Dan Nabi Adam AS pun berkata: “Roh-roh yang busuk dan sukma yangdurhaka, sama-sama masuklah kalian semua di dalam neraka Sijjin.”

Dan Nabi Adam AS melihat dari arah kanannya ada bayang-bayang(gerombolan-gerombolan nyawa) hitam dan pintu. Dan dari pintu tersebut,keluarlah aroma yang sangat semerbak harum. Dan dari arah kiri, Nabi Adam ASmelihat bayang-bayang dan pintu. Dari pintu tersebut keluarlah aroma yang yangsangat busuk dan menyengat.

Ketika Nabi Adam AS menoleh ke arah kanan, dirinya bangga dan bergembira. Danketika menoleh ke kiri, dirinya sedih dan menangis.

Lantas Kanjeng Nabi bersalam kepada Nabi Adam AS. Dan Nabi Adam AS pun menjawabsalam beliau. Nabi Adam AS lantas berkata: “Selamat datang wahai anakku yangshalih dan nabi yang shalih.” Lantas Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa itu yaJibril?” Jibril menjawab: “Beliau adalah Bapak moyang Baginda Rasul, yaitu NabiAdam AS. Adapun bayang-bayang hitam itu adalah keturunan Nabi Adam AS.
Sementara itu, gerombolan-gerombolan hitam sisi kanan adalah ahli surga, danyang sisi kiri adalah ahli neraka.”

Apabila Nabi Adam AS melihat ke sisi kanan, beliau bangga dan bahagia hatinya.Dan apabila melihat ke sisi kiri, Nabi Adam AS menangis dan bersedih hati.
Pintu sebelah kanan adalah pintu surga. Ketika nabi Adam AS melihat anakketurunannya sama-sama masuk surga, hatinya bangga dan berbahagia.
Adapun pintu sebelah kiri adalah pintu neraka. Ketika Nabi Adam AS melihat anakketurunannya sama-sama masuk neraka, hatinya menangis dan bersedih.

Lantas Kanjeng Nabi melanjutklan perjalanannya kembali yang tidak jauh daritempat tadi. Dan bertemulah beliau dengan orang-orang yang senang memakan hartariba dan harta benda anak yatim. Beliau juga bertemu dengan orang-orang yanggemar berzina dan sebagainya. Keberadaan mereka sangat menyedihkan danmengenaskan (buruk). Seperti fenomena terdahulu. Justru malah lebihmenyedihkan.

Lantas Kanjeng Nabi naik kembali ke langit yang kedua. Jibril mengetuk puntulangit dan meminta izin untuk masuk. Penjaga langit bertanya: “Siapa itu?”Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas penjaga langit bertanya kembali:“Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.”Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datangkemari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkanmasuk! Selamat datang! Aduh … …, Saya rasa, saya mendapat anugrah dari AllahSWT, sebab saya dapat bertatap muka dengan Baginda Rasul dan menjalinpersaudaraan. Semoga Baginda Rasul dimuliakan Allah SWT, dan saudara-saudara yangseiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agamaAllah SWT. Demikianlah sebagus-bagusnya saudara seiman, wakilnya Allah SWT, dansebagus-bagusnya orang yang datang.

Kemudian pintu langit pun segera dibuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tibamereka bertemu dengan Nabi Isa AS bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakaria yangkeduanya hampir serupa pakaian dan rambutnya (ibunya nabi Yahya masihbersaudara dengan Dewi Maryam). Keduanya ditemani oleh sekelompok kaumnya.

Nabi Isa itu berperawakan standar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Rambutnyapanjang, kelihatan seperti orang yang baru saja mandi. Wajahnya serupa denganYarwah bin Mas’ud-ats Tsaqafi.

Kanjeng Nabi lantas berucap salam kepada Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Keduanyamenjawab salam tersebut dan berkata: “Selamat datang saudaraku yang shalih dannabi yang shalih.” Keduanya pun mendoakan Kanjeng Nabi dengan do’a yang bagus.

Lantas Kanjen Nabi dan Malikat Jibril naik ke Langit yang ketiga. Jibrilmeminta izin agar dibukakan pintu langit. Penjaga pintu langit pun bertanya:“Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersamasiapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Danditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?”Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkan masuk!Selamat datang! Sungguh saya telah mendapat anugrah dari Allah SWT, sebab sayadapat berjumpa dengan Baginda Rasul dan menjalin persaudaraan dengan BagindaRasul. Semoga baginda rasul dimuliakan Allah SWT, saudara-saudara yang seimandan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama AllahSWT. Itulah semulya-mulyanya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnyaorang yang datang.

Kemudian pintu langit pun segera dibuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tibamereka berdua berjumpa dengan Nabi Yusuf AS yang ditemani oleh sebagianumatnya. Kanjeng Nabi bersalam kepada Nabi Yusuf AS. Lantas Nabi Yusuf ASmenjawab salam tersebut. Dan berkatalah Nabi Yusuf AS: “Selamat datang wahaisaudaraku yang shalih dan nabi yang shalih!” Nabi Yusuf pun mendo’akan KanjengNabi dengan do’a yang luhur.

Ketampanan Nabi Yusuf tersebut menyamai setengah dari ketampanan Kanjeng NabiMuhammad SAW. Menurut salah satu riwayat: “Nabi Yusuf itu dianugrahi raut wajahyang indah melebihi keindahan wajah seluruh umat manusia. Wajahnya laksanabulan purnama yang sinar terangnya melebihi terang sinar semua bintang.”Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalahsaudara Baginda Rasul. Namanya Nabi Yusuf AS.”

Lantas Kanjeng Nabi dan Malikat Jibril naik lagi ke langit yang keempat. DanJibril meminta izin agar dibukakan pintunya. Penjaga langit bertanya: “Siapaitu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapakamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalahsekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” JibrilJawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamatdatang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan oleh saudara yangseiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agamaAllah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnyaorang yang datang.

Pintu langit lalu dibukakan. Setelah itu mereka berdua masuk. Tiba-tiba KanjengNabi dan Malikat Jibril bertemu dengan Nabi Idris AS yang dimuliakan Allah SWTdi tempat yang tinggi dan mulia. Kanjeng Nabi bersalam. Dan dijawablah salamtersebut oleh Nabi Idris AS. Beliau berkata: “Selamat datang wahai saudarakuyang shalih dan nabi yang shalih.” Lantas Nabi Idris mendo’akan Kanjeng NabiMuhammad dangan do’a yang luhur.

Kemudian Kanjeng Nabi dan Malikat Jibril naik ke langit yang kelima. Jibrillalu minta izin untuk dibukakan pintunya. Penjaga langit pun bertanya: “Siapaitu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapakamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalahsekali lagi: “Sudah diutuskah kalian oleh Allah untuk datang ke tempat ini?”Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk!Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan olehsaudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenanmenyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman,khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Setelah itu pintu langit pun dibuka. Kemudian Kanjeng Nabi dan Malikat Jibrilmasuk, tiba-tiba mereka berdua berjumpa dengan Nabi Harun AS yang rambut danjenggotnya sebagian putih dan sebagian hitam. Jenggot tersebut menjuntai kebawah sepanjang pusar, sebab sangat panjangnya. Nabi harun dikerumuni oleh kaumBani Israil. Saat itu Nabi Harun bercerita kepada kaum tersebut.

Kanjeng Nabi bersalam dan dijawab. Lantas Nabi Harun berucap: “Selamat datangwahai saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih!” Kemudian Nabi Harunmendo’akan Kanjeng Nabi dengan do’a yang baik. Kanjeng Nabi bertanya kepada MalikatJibril: “Siapakah dia ya Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalah seorang lelakiyang sangat dicintai oleh kaumnya. Namanya Nabi Harun bin Imran.”

Selanjutnya Kanjeng Nabi dan Malaikat Jibril naik lagi ke langit yang keenam.Jibril meminta izin agar dibukakan pintu langit tersebut. Penjaga pintu langitbertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali:“Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.”Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga pintu langit lantas berucap:“Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT,dimuliakan oleh saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telahberkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudaraseiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Kemudian pintu langit pun dibuka. Setelah itu mereka berdua masuk. LantasKanjeng Nabi bertemu dengan beberapa nabi yang saling diiringi oleh parakaumnya, namun hanya sedikit. Kanjeng Nabi juga berjumpa dengan nabi-nabi yangkaumnya banyak. Dan bertemu dengan nabi-nabi yang tidak berpengikut.

Kemudian Kanjeng Nabi berjumpa dengan serombongan orang yang sangat banyak yangmemenuhi segala penjuru (segala arah). Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa merekawahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah Nabi Musa AS dan parapengikutnya. Namun saya harap Baginda Rasul untuk mengangkat kepala.” Tiba-tibaKanjeng Nabi melihat serombongan orang yang juga berjumlah sangat banyak yangmemenuhi segala penjuru. Jibril berkata: “Mereka semua adalah umatmu wahaiBaginda Rasul.” Adapun selain iring-iringan tersebut, ada tujuh puluh ribuorang yang akan masuk surga tanpa dihisab, (semoga kita masuk dalam golongantersebut).

Setelah Kanjeng Nabi dan Malikat jibril masuk, tiba-tiba mereka berdua bertemudengan Nabi Musa AS bin Imran. Nabi Musa itu seorang lelaki yang berkulit putihkemerah-merahan. Tinggi badannya seperti orang Syanuah. Banyak-tebal bulunya.Apabila memakai baju rangkap dua, sungguh akan robek tertembus bulu tersebut.

Lantas Kanjeng Nabi bersalam, dan salam tersebut dijawab oleh Nabi Musa AS.Kemudian Nabi Musa berucap: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dannabi yang shalih.” Nabi Musa AS juga berdo’a untuk Kanjeng Nabi dengan do’ayang luhur.

Nabi Musa berkata: “Semua orang sama-sama berpikiran bahwa saya adalah orangtermulia di hadapan Allah SWT dari pada Muhammad. Namun sesungguhnyaMuhammadlah yang lebih mulia di hadapan Allah SWT dari pada saya.”
Ketika Kanjeng Nabi melewati Nabi musa AS, Nabi Musa menangis. Beliau ditanyaoleh orang-orang banyak: “Ada apa kok menangis wahai Nabi Musa?” Nabi Musamenjawab: “Saya menangis sebab Muhammad diutus sesudah saya, namun umatnyasangat banyak yang masuk surga dari pada umat saya.”

Kaum Bani Israil sama-sama berpendapat bahwa sayalah yang paling mulia diantara seluruh keturunan Nabi Adam AS di hadapan Allah, namun sesungguhnyaMuhammadlah yang lahir sesudah saya yang termulia. Sementara saya telah hidupdi alam akhirat. Seumpama hanya Muhammad sendirian, saya tidak apa-apa, namunini berbeda, Muhammad bersama-sama dengan umatnya, tentu saja saya menjadi iridengannya.”

Lantas Kanjeng Nabi dan Malikat Jibril naik kembali ke langit yang ketujuh.Jibril meminta izin agar dibukakan pintu langit tersebut. Penjaga pintu langitbertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali:“Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Danditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang ke mari?”Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk!Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan olehsaudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenanmenyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman,khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.”

Kemudian pintu langit pun terbuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tibamereka bejumpa dengan Nabi Ibrahim AS “Al-Kholil” yang duduk di sebuah kursiyang terbuat dari emas di depan pintu surga. Beliau menyandarkan punggungnya diBaitul Makmur. Saat itu Nabi Ibrahim sedang didampingi oleh sekolompok kaumnya.Lantas Kanjeng Nabi berucap salam dan dijawablah salam tersebut oleh NabiIbrahim AS.

Kemudian Nabi Ibrahim AS berkata: “Selamat datang wahai anakku dan nabi yangshalih.” Lantas Nabi Ibrahim berpesan: “Perintahkanlah kepada umatmu, agarmemperbanyak tanaman dan perhiasan surga, karena sesungguhnya tanah surga itusangatlah bagus-subur dan luas.” Kanjeng Nabi bertanya: “Apa tanaman surgatersebut?” Nabi Ibrahim AS berkata: “ Yaitu: laa khaula wa laa quwwata illaabillaahil ‘aliyyil ‘adhiim.”

Menurut salah satu riwayat diterangkan bahwa: “Tolong sampaikan salam sayakepada umatmu dan ceritakanlah bahwa surga itu tanahnya bagus-sangat subur,tawar dan segar airnya. Adapun sesungguhnya tanaman surga tersebut adalah:subkhaanallah walkhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar.”

Orang-orang yang berada di sebelah kiri dan kanan Nabi Ibrahim (kaumnya)semuanya duduk dalam satu kelompok. Wajahnya putih-bening seperti kertas,sekelompok lain ada kotoran noda hitam kulitnya. Lantas kaum yang terdapatkotoran dikulitnya sama-sama berdiri kemudian masuk dan mandi di sebuah sungai.Selanjutnya sama-sama keluar sebab telah bersih kotorannya. Setelah itu masukdan mandi kembali di sebuah sungai yang lain. Kemudian keluar dan telah bersihkotoran noda-noda hitamnya. Lantas masuk dan mandi kembali sampai tiga kali diaungai yang lain lagi. Sesudah itu sama-sama keluar sebab telah bersih seluruhkotoran noda hitamnya. Sehingga kulit dan wajahnya putih-bening sama sepertiteman-temannya yang lain. Lantas semuanya sama-sama duduk berkumpul bersamateman-temannya yang berkulit dan berwajah putih-bening tadi.

Kanjeng Nabi bertanya: “Wahai Jibril, siapa kelompok orang-orang yang berkulitdan berwajah putih-bening tersebut? Dan siapa golongan yang kulit dan wajahnyaterdapat kotoran noda hitam itu? Dan sungai apa yang dijadikan tempat manditadi?”

Jibril menjawab: “Kelompok orang-orang yang kulit dan wajahnya putih-bening ituadalah orang-orang yang imannya tidak tercampur dengan dosa-maksiat. Sedangkansekelompok orang yang kulit dan wajahnya terdapat kotoran dan noda hitam adalahorang-orang yang beramal shalih namun juga mengerjakan perbuatan dosa-maksiat,lantas mereka sama-sama bertobat dan Allah SWT menerima tobatnya. Adapun sungaitersebut adalah: yang pertama sungai Rahmatullah, yang kedua sungainikmatullah, dan yang ketiga adalah sungai saqaahum rabbahumsyaraabangthahuuraa, yang artinya: sungai tempat kalian semua dianugrahiminum-minuman yang sangat segar dan bening juga bersih.”

Dan dijelaskan oleh Malikat Jibril: “Itulah tempatmu dan tempat umatmu yaRasulullah!” Di tempat tersebut tiba-tiba Kanjeng Nabi berjumpa dengan umatbeliau. Umat tersebut terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang pertamamemakai pakaian putih seperti kertas, sedangkan golongan yang kedua memakaipakaian kusam.

Kanjeng Nabi lantas masuk ke Baitul Makmur. Beliau masuk bersama-sama dengangolongan yang memakai pakaian putih. Dan golongan yang memakai pakaian kusamdilarang masuk mengikutinya. Kemudian Kanjeng Nabi mengerjakan shalat di BaitulMakmur bersama-sama dengan orang-orang mukmin.

Di situ, Baitul Makmur tersebut ternyata dalam setiap harinya dimasuki tujuhpuluh ribu malaikat yang tidak pernah kembali keluar lagi hingga hari kiamat.Dan sesungguhnya Baitul Makmur tersebut tegak lurus dengan Ka’bah. Seumpamasebuah batu di jatuhkan dari Baitul Makmur, maka akan terjatuh tepat di Ka’bah.Apabila sudah masuk Baitul Makmur maka tidak akan keluar lagi. Tepat di BaitulMamur tersebut merupakan akhir dari perjalanan para malaikat.

Dalam riwayat lain juga dijelaskan: “Dalam Baitul Makmur itu, Kanjeng Nabidihidangi tiga gelas minuman. Lantas Kanjeng Nabi memilih dan mengambil gelasyang berisi susu. Tindakan Kanjeng Nabi tersebut dibenarkan oleh MalaikatJibril dengan ungkapan: Susu tersebut merupakan tanda dari agama islam (fitrah)yang akan Baginda Rasul dan umat Baginda Rasul peluk.”

Kemudian Kanjeng Nabi dibawah naik lagi ke Sidrotul Muntaha. Di tempat itulahakhir dari semua amal manusia naik dari bumi, lalu berhenti. Di SidrotulMuntaha tersebut, takdir-takdir diturunkan dari ketinggian dan berhenti.

Sidrotul Muntaha adalah sebatang pohon besar. Dari tunasnya mengalir beberapasungai yang airnya sangat bening dan tidak pernah berubah, baik bentuk maupunrasanya. Di situ juga mengalir sungai susu yang tidak akan pernah berubahrasanya. Ada juga sungai arak yang sangat segar menurut orang-orang yangmeminum dan sungai madu yang sangat bersih-bening.

Atap Sidratul Muntaha itu jika ditelusuri seseorang yang naik kendaraanmembutuhkan waktu tujuh puluh tahun, namun belum juga sampai. Adapun buahnyaSidrotul Muntaha itu sebesar kendi-kendi Tanah Hajar (sebuah desa yang dekatdengan Madinah). Sementara daunnya selebar telinga gajah. Satu daun saja sudahmampu menutupi seluruh umat yang ada.

Menurut salah satu riwayat diterangkan: “Selembar daun tersebut dapat menutupiseluruh makhluk. Tiap-tiap satu daun terdapat satu malaikat. Daun itu warnanyabermacam-macam yang tidak dapat dimengerti warna apa saja itu. Ketika ada suatuperkara yang menutupinya, sebab perintah Allah SWT, lantas berubalah menjadiIntan Baiduri, Yaqut, dan Zabarjud.”

Tidak ada seorang pun yang sanggup memberi sifat dan menggambarkan keadaanSidratul Muntaha. Dalam setiap daun terdapat belalang emas. Dari tunas pohonSidrotul Muntaha tersebut mengalir empat sungai yang masuk ke surga. Adapunyang dua, mengalir keluar ke bumi (dua yang terlihat dan dua tidak terlihat).

Kanjeng Nabi bertanya: “Sungai apakah itu ya Jibril?” Jibril berkata: “Duasungai yang tidak terlihat itu mengalir ke dalam surga. Adapun dua sungai yangterlihat itu adalah sungai Nil (Mesir) dan sungai Furat (Irak).”

Menurut salah satu riwayat dijelaskan: “Di dalam Sidrotul Muntaha, Kanjeng Nabisempat melihat Malaikat Jibril memiliki enam ratus sayap (600). Tiap-tiap sayaptersebut sanggup menutupi jagad raya. Dan dari tiap-tiap sayapnya Jibril itubertaburan Intan dan Yaqut. Dari mana asalnya tidak ada yang tahu kecuali AllahSWT.”

Lalu Kanjeng Nabi berjalan menelusuri tepi Telaga Kautsar hingga masuk ke dalamsurga. Tiba-tiba Kanjeng Nabi di dalam surga melihat beberpa hal yang tidakdapat terlihat oleh mata, tidak dapat didengar telinga, dan tidak pernahterlintas di hati. Kanjeng Nabi kemudian melihat sebuah tulisan di pintu surga:“Memberi shadaqah itu pahalanya sepuluh kali lipat, dan memberi hutang orangyang membutuhkan itu pahalanya delapan belas kali lipat.” Lantas Kanjeng Nabipun bertanya: “Jibril, bagaimana bisa orang yang memberi hutang itu lebih utamadari pada shadaqah?” Jibril menjawab: “Sebab orang yang meminta-minta itu masihmemiliki kelebihan sesuatu, sedangkan orang hutang itu tidak akan berani hutangkecuali membutuhkan.”

Kanjeng Nabi kemudian berjalan-jalan di surga. Tiba-tiba saja beliau berjumpadengan sungai susu yang tidak akan pernah berubah rasanya dan sungai khomeryang sangat lezat menurut orang-orang yang minum. Dan sungai madu yang sangatbening. Di dalam surga bertaburan rumah-rumahan kecil yang terbuat darilu’lu’-mutiara dan beberapa buah delima yang besarnya sebesar timba-timba.

Menurut salah satu riwayat diterangkan: “Di dalam surga terdapat buah delimayang besarnya sebesar kulit unta yang ada muatannya dan burung-burung surga itusebesar Unta Khurasan yang memiliki dua punuk (punggung).”

Shahabat Abu Bakr berkata: “Ya Rasulullah! Apakah dagingnya nikmat?” KanjengNabi berkata: “Saya pernah memakan daging burung itu. Sungguh dagingnyabenar-benar nikmat melebihi kenikmatan seluruh daging yang pernah aku rasakan.Dan saya berharap kamu bisa makan daging burung tersebut.” Lalu Kanjeng Nabimelihat Telaga Kautsar yang di dua tepinya terdapat rumah-rumahan kecil yangterbuat dari mutiara yang dilubangi. Tanahnya berbau harum seperti minyakmisik.

Lantas Kanjeng Nabi diperlihatkan batu dan besi di neraka. Di situ tempatkemurkaan, kutukan, dan siksaan Allah SWT.

Seumpama batu dan besi dilemparkan ke dalam neraka, tentu akan hancur binasadan meleleh. Di dalam neraka tiba-tiba ada sekelompok orang/umat yang semuanyamemakan bangkai.

Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab: “Merekaadalah orang-orang yang pekerjaannya suka memakan daging manusia (artinya:orang-orang yang gemar mengumpat).” Di situ, Kanjeng Nabi melihat MalaikatMalik penjaga neraka. Wajahnya selalu terlihat sadis dan memancarkan aurakemarahan yang sangat membara. Kanjeng Nabi mengawali berucap salam kepadaMalaikat Malik. Lalu pintu neraka ditutup untuk menghormati Kanjeng Nabi.


Kitab DARDIR ( KISAH ISRA’ MI’ROJ ) BAGIAN - 2

23 Mei 2013 pukul 9:17


Lantas Kanjeng Nabi dibawah naik ke Sidrotul Muntaha. Kanjeng Nabi diselimutikabut yang menyerupai mendung yang warnanya beraneka ragam. Dan Jibril punberhenti.

Kanjeng Nabi lalu dibawa naik ke Mustawa (sebuah tempat tinggi yang biasanyadijadikan sebagai tempat peristirahatan). Di tempat tersebut, beliau terdengargemricik kolam-kolam. Di situ, beliau juga melihat seorang lelaki yang diliputioleh Nurul ‘Arsy. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa dia wahai Jibril? Apakahseorang Malaikat?” Jibril menjawab: “Bukan!” Kanjeng Nabi bertanya lagi:“Apakah seorang nabi?” Dijawabnya kembali: “Bukan!” Kanjeng Nabi bertanyasekali lagi: “Lantas siapakah dia?” Dan dijawablah: “Dia adalah seorang lelakiyang semasa hidup di dunia, lisannya selalu basah sebab dibuat dzikir kepadaAllah SWT. Dan hatinya selalu terikat erat (sambung-berpikir-berangan-angan)dengan masjid. Serta tidak pernah memusuhi-tidak pernah menyakiti hati keduaorang tuanya.”

Lantas Kanjeng Nabi menghadap Allah SWT. Beliau lalu bersujud. Allah pun berkatakepada Kanjeng Nabi ketika beliau sedang bersujud: “Wahai Muhammad!” KanjengNabi menjawab: “Ya, ada apa wahai Tuhanku?” Allah berucap: “Apa yang kamukehendaki dari-Ku?” Kanjeng Nabi berkata: “Sesungguhnya Engkau telah menjadikanNabi Ibrahim AS sebagai Kholilullah dan juga kerajaan yang agung. Engkau telahmemberi petunjuk kepada Nabi Musa AS. Dan menganugrahi Nabi Dawud AS kerajaanyang agung, meluluhkan besi kepada Nabi Dawud AS, juga memberi kuasa Nabi Dawuduntuk meguasai gunung. Dan Engkau telah memberikan kepada Nabi Sulaimankerajaan yang agung, dapat menguasai jin, manusia, syetan, dan angin. Engkaujuga telah menganugrahkan sebuah kerajaan yang tidak pernah diberikan setelahNabi Sulaiman. Engkau juga mengajari Nabi Isa AS kitab Taurat dan Injil, jugamemberikan kemampuan dapat menyembuhkan orang buta, bisu, dan belang (kulitnyaputih), dan dapat menghidupkan orang mati dengan seizin-Mu. Engkau telahmenjaga sekaligus melindungi Nabi Isa AS serta ibunya dari godaan syetan yangterkutuk, hingga tidak ada yang berani menggoda keduanya lagi.”

Lalu Allah SWT berkata: “Sungguh telah Kujadikan engakau Muhammad sebagaikekasih-Ku. Rowi Hadits menjelaskan: “Ucapan Allah tersebut sebenarnya telahditulis di dalam kitab Taurat, bahwa Kanjeng Nabi Muhammad adalah kekasih Allahdan Allah pun telah mengutusnya untuk seluruh umat manusia dengan memberikebahagiaan surga bagi orang yang berkenan mengikutinya, dan menakut-nakutidengan neraka bagi orang yang mendurhakainya. Dan Allah telah membuka sertamelapangkan dada juga hati Muhammad SAW. Mengampuni seluruh dosanya, dan Allahtelah mengangkat derajatnya hingga tidak akan disebut nama Allah kecualibersamaan dengan Nama Muhammad. Allah telah menjadikan umat Muhammad sebagaiumat yang terbagus dari seluruh umat yang ada dan dilahirkan untuk manusia. DanAllah telah menjadikan umat Muhammad sebagai umat yang awal diciptakan dan yangterakhir dilahirkan.”

“Dan telah Ku tetapkan kepada umatmu, Muhammad, tidak memiliki kewenangan dalammenasehati sesamanya, kecuali telah berucap dan bersaksi bahwa Muhammad adalahHamba-Ku dan utusan-Ku. Dan Aku telah menjadikan umatmu, Muhammad, sebagaisatu-satunya umat yang hatinya menjadi tempat menerima ilmu dan hikmah.”

“Dan telah Kujadikan engkau sebagai permulaan para nabi dalam setiapkejadiannya dan yang akhir dari seluruh para nabi berdasarkan pengutusannya.Dan telah Kujadikan engkau sebagai orang yang pertama dihisab, dan telah Akuanugrahkan kepadamu surat Al-Fatihah (tujuh ayat yang diulang-ulang sampaiberkali-kali pembacaannya) yang tidak Aku berikan kepada nabi sebelum kamu.”

“Dan telah Kuberikan kepadamu, beberapa akhir dari surat Al-Baqarah, dariperbendaharaannya di bawah ‘Arasy yang tidak pernah aku berikan kepada nabisebelum kamu.
Dan engkau telah Aku anugrahi Al-Kautsar (telaga Kautsar). Saya juga telahmemberimu delapan keutamaan: ………..

…… Islam, hijrah, kebenaran, puasa Ramadlan, amar ma’ruf, dan nahi munkar.”

“Dan sesungguhnya Aku mulai hari ini telah memberi mandat kepada seisi langitdan bumi. Telah Kuwajibkan kepadamu dan kepada umatmu untuk mengerjakan shalatlima puluh kali. Maka kerjakanlah shalat tersebut.”

Dan dalam salah satu riwayat dijelaskan: “Rasulullah Muhammad dianugrahi shalatlima puluh waktu, beberapa ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, dan Allah telahmengampuni dosa-dosa umat Muhammad, kecuali dosa musyrik (menyekutukan Allah)dari umat Muhammad dengan sesuatu hal yang bersifat merusak keimanan.”

Lantas tersibaklah kabut yang menyilaukan yang berasal dari nur Kanjeng NabiMuhammad. Kemudian Jibril memegang erat-erat tangan Kanjeng Nabi. Lalucepat-cepat mengundurkan diri.

Setelah itu, Kanjeng Nabi mendatangi Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim tidakberkata apa-apa. Kemudian Kanjeng Nabi mendatangi Nabi Musa AS. Nabi Musa ASberkata: “Aku adalah sebagus-bagusnya teman bagimu.”

Nabi Musa AS bertanya: “Ada keperluan apa engkau ya Muhammad? Apa yang telahdiwajibkan Allah kepadamu dan kepada umatmu?” Kanjeng Nabi menjawab: “Allahtelah mewajibkan kepadaku dan kepada umatku untuk mengerjakan shalat lima puluhwaktu dalam sehari semalam.”

Nabi Musa AS berkata: “Berkenanlah kiranya engkau untuk kembali ke hadapanAllah dan memintalah keringanan untuk dirimu dan umatmu. Sebab sesungguhnyaumatmu tidak akan kuat mengerjakannya. Sungguh, saya telah mencobanya kepadaorang-orang sebelum kamu dari kaum Bani Israil. Dan perintah tersebut lebihringan dari pada perintah yang telah diwajibkan kepadamu dan kepada umatmu itu.Pagi dua rakaat, sore dua rakaat, namun umatku masih saja sulit dan tidak sanggupmengerjakannya. Mereka semua sama-sama meninggalkannya.

Sementara umatmu, lebih ringkih jasadnya, badannya, hatinya, penglihatannya,dan pendengarannya.”

Lalu Kanjeng Nabi menoleh ke arah malaikat Jibril, meminta pertimbangan. Jibrilmenganggukkan kepala, sebagai tanda mempersilahkan. Kanjeng Nabi lantaslekas-lekas kembali.

Hingga tiba di Syajaroh Sidrotil Muntaha. Kanjeng Nabi kemudian diselimutimendung. Kanjeng Nabi sujud dan berkata: “Duh Tuhanku, semoga engkau berkenanmemberi keringanan kepada umatku sebab umatku adalah seringkih-ringkihnyaumat.” Allah SWT berkata: “Aku kurangi lima untuk umatmu.”

Lantas tersingkaplah kabut mendung. Kanjeng Nabi kembali datang menghadap NabiMusa AS, dan berkata: “Allah telah mengurangi lima untukku.” Kemudian Nabi MusaAS berkata: “Berkenanlah untuk kembali mengahadap Tuhanmu dan mintalahkeringanan sekali lagi. Karena sesungguhnya umatmu masih tidak mampu untukmengerjakannya.”

Selanjutnya Kanjeng Nabi bolak-balik dengan tiada henti-hentinya di antara NabiMusa AS dan Allah SWT. Allah memberikan keringanan lima-lima kepada KanjengNabi hingga shalat lima puluh waktu tersebut hanya tinggal lima waktu saja.Allah pun berkata kepada Kanjeng Nabi: “Wahai Muhammad!” Kanjeng Nabi menjawab:“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah!” Allah berkata: “Shalat itu kerjakanlahdalam waktu sehari-semalam. Adapun pahalanya setiap satu kali shalat adalahsepuluh kali lipat. Jadi, lima kali shalatan itu sama halnya dengan pahala limapuluh kali shalat.

Oleh sebab itu, apa yang telah aku katakan, tidak akan pernah bisa digantimaupun dihapus, dan itu telah menjadi ketetapanku. Dan siapa saja yang dengansengaja berniat untuk melakukan kebajikan, namun tidak bisa melaksanakan (sebabada sesuatu udzur syara’) maka ditulis satu kebaikan, namun jika dapatmengerjakannya, maka ditulis sepuluh kebagusan.

Barang siapa yang berniat maksiat, lantas tidak jadi dikerjakannya, maka tidakakan ditulis apa-apa. Apa bila jadi mengerjakan maksiat tersebut, makaditulislah satu maksiat.”

Setelah itu tersingkaplah mendung yang menutupi Kanjeng Nabi dan beliau punakhirnya turun hingga sampai pada Nabi Musa AS kembali lantas Kanjeng Nabimemberi khabar padanya. Lantas Nabi Musa AS berkata:: “Berkenanlah kiranya kamuya Muhammad untuk kembali lagi ke hadapan Allah, Tuhanmu untuk memintakeringanan. Sesungguhnya umatmu masih belum sanggup untuk mengerjakannya.”Kanjeng Nabi menjawab: “Saya sudah bolak-balik ke hadapan Allah SWT hingga sayamerasa malu. Sekarang saya telah ridla dan pasrah/ikhlas menerimanya.”

Tidak lama kemudian, terdengarlah seruan: “Sungguh aku telah mewajibkan akansebuah kewajiban dan telah memberikan suatu keringanan kepada hamba-Ku.”Setelah terdengar seruan itu, Nabi Musa AS lalu berkata: “Silahkan, sayapersilahkan kamu wahai Muhammad untuk turun sambil menyebut nama Allah SWT.”

Kemudian Kanjeng Nabi turun. Dan beliau tidak mendahului rombongan paramalaikat. Kecuali mereka semua saling berkata: “Berkenanlah kamu ya Rasulullahuntuk membiasakan canduk (mengeluarkan darah kotor dari kepala).”

Dalam satu riwayat diterangkan: “Berkenanlah kamu kiranya ya Muhammad untukmemerintahkan kepada umatmu agar membiasakan canduk.” Lalu Kanjeng Nabi turun.

Kanjeng Nabi bertanya kepada Malaikat Jibril: “Saya tidak menemukan penghunilangit, kecuali sama-sama menyambut kehadiranku dengan sambutan riang gembira.Dan semuanya sama-sama tersenyum manis untukku. Kecuali seorang malaikat. Sayamengucap salam kepadanya. Dia juga menjawab salam saya dan menyambut sayadengan penuh kebahagiaan. Dia juga mendoakan saya, namun dia tidak menunjukkanraut wajah yang menggembirakan kepadaku.”

Jibril menjelaskan: “Seorang Malikat tersebut adalah Malaikat Malik penjaganeraka. Dia tidak pernah menunjukkan raut wajah yang menggembirakan semenjakdiciptakan. Seumpama Malikat Malik ingin menunjukkan raut wajah yangmenggembirakan kepada orang lain, tentu saja hanya kepadamu seorang ya Rasul.”

Ketika Kanjeng Nabi turun ke langit dunia, beliau melihat ke bawah. Tiba-tibabeliau melihat debu yang tebal dan smendengar suara yang menggemuruh. LaluKanjeng Nabi bertanya: “Apa itu ya Jibril?” Jibril menjawab: “Itu adalahperbuatan syetan yang berusaha untuk menghalang-halangi manusia agar manusiatersebut tidak mampu memikirkan keagungan Allah SWT baik di langit maupun di bumi.Seumpama syetan tidak menggaggu dan tidak menghalang-halangi, sudah dapatdipastikan bahwa, semua manusia akan mampu melihat keajaiban-keajaiban AllahSWT.”


Kanjeng Nabi lalu naik Buroq. Beliau kemudian melihat unta-unta orang Quraisyberhamburan di sana-sini. Dan di dalam rombongan unta-unta tersebut, ada satuunta yang membawa dua muatan. Satu muatan berwarna hitam dan satu muatanberwarna putih.

Ketika Kanjeng Nabi mendekati unta-unta tersebuat, unta-unta itu semuanyasaling berontak lari dan berputar-putar lalu terjatuh hingga ada yang patahkakinya.

Kanjeng Nabi lantas mendahului iring-iringan orang yang mengendarai unta-untayang lain. Di antara metreka ada yang kehilangan untanya. Seluruh untadikumpulkan dan dicarilah unta yang hilang tersebut oleh orang banyak yangberasal dari Bani Fulan. Lalu Kanjeng Nabi bersalam kepada orang beruntatersebut. Dan berkatalah sebagian orang dari rombongan tadi: “Ini suaranyaMuhammad!”

Setelah semua itu, Kanjeng Nabi tiba di tempat shohabat-shohabatnya menjelangwaktu subuh di Makkah. Ketika sudah subuh, beliau terlihat mengeluh-sedih danmengerti jika sesungguhnya orang-orang akan sama-sama mendustakannya. Kanjengnabi lantas duduk bersandar dan bersedih hati.

Tidak lama kemudian muncullah musuh Allah SWT yaitu Abu Jahal. Abu Jahal punmendatangi Kanjeng Nabi dan ikut duduk bersama beliau. Abu Jahal bertanyakepada Kanjeng Nabi seperti orang yang mengejek: “Apakah ada berita yang ajaibMuhammad?” Kanjeng Nabi menjawab: “Iya, ada!” Abu Jahal bertanya kembali:“Berita apakah itu?” Kanjeng Nabi menjawabnya: “Tadi malam saya di-Isra’kan.”Abu Jahal bertanya lagi: “Kemanakah Isra’mu?” Kanjeng Nabi menjawab: “Ke BaitulMaqdis.”



Abu Jahal bertanya: “Sepagi inikah kamu sudah hadir di tengah-tengah kitasemua?” Kanjeng Nabi menjawab: “Ya!” Abu Jahal tidak memperlihatkan kedustaanyakepada Kanjeng Nabi. Abu Jahal hawatir jika Kanjeng Nabi akan berpaling dariucapannya sehingga Abu Jahal pun memanggilkan para kaum beliau.
Abu Jahal bertanya: “Wahai Muhammad! Bagimana pendapatmu jika aku undangkaummu? Apakah kamu berkenan untuk menceritakan kepada para kaummu apa yangtelah kau ceritakan kepadaku?” Kanjeng Nabi berkata: “Ya, saya mau!”

Lalu Abu jahal mengundang dan mengumumkannya: “Wahai kaum keturunan Bani Ka’abbin Lu’ayin, datanglah kemari kalian semuanya!” Lantas datanglah mereka semuauntuk menghadiri majelis tersebut. Orang-orang banyak yang berdatangan sertaduduk di depan kursinya Kanjeng Nabi dan Abu Jahal. Abu Jahal pun berkata:“Wahai Muhammad! Berceritalah kamu kepada kaummu, tentang apa yang telah kauceritakan kepadaku!”

Kemudian Rasulullah SAW pun bercerita: “Sesungguhnya saya tadi malam telahdi-Isra’kan.” Orang banyak sama-sama bertanya: “Ke mana?” Baginda RasulMenjawab: “Ke Baitul Maqdis.” Orang-orang pun bertanya kembali: “Apa sepagiinikah kamu telah datang di tengah-tengah kita semua?” Baginda Rasul menjawab:”Ya, benar!”

Mendengar cerita Rasulullah tersebut, kaum menjadi gaduh. Ada yang bertepuktangan. Ada yang meletakkan tangannya di kepalanya sebab kagum. Suasana kaummenjadi gaduh. Kaum menganggapnya aneh dan sebuah peristiwa besar. LantasMut’im bin Adi berkata: “Wahai Muhammad! Semua ceritamu sebelumnya hanyabiasa-biasa saja dan ringan, kecuali ceritamu pada hari ini.

Saya bersaksi: bahwa sesungguhnya kamu itu bohong dan seorang pembohong.Kita/saya bepergian ke Baitul Maqdis dengan mengendarai unta itu membutuhkanrentang waktu satu bulan. Apa mungkin kamu dapat sampai di Baitul Maqdis dalamrentang waktu hanya semalam? Demi Latta dan Uzza, saya tidak percaya!”

Shohabat Abu Bakar berkata: “Wahai Mut’im! Sungguh hina ucapanmu kepada putrasaudaramu sendiri. Kamu telah membuat malu dan mendustakan keponakanmu sendiri.Sementara itu, saya bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu orang yang benar(saya percaya)!”

Orang-orang saling bertanya: “Wahai Muhammad! Cobalah kau sifati-jelaskanlahkepada kita semua tentang Baitul Maqdis. Seperti apa bangunannya? Seperti apabentuknya? Dan berapa jarak-jauhnya dengan gunung? Sementara di dalam kumpulan kaumini sudah ada salah seorang yang pernah pergi ke Baitul Maqdis.” Lalu KanjengNabi menyifati Baitul Maqdis dengan jelas kepada kaumnya. Bagunannya,bentuknya, dan jarak-jauhnya dengan gunung. Beliau menyifati dan menggambarkansemua keadaan Baitul Maqdis secara jelas kepada kaumnya. Hanya ada satu halyang tidak beliau jelaskan yaitu tentang jumlah pintunya. Sebab itulah, hatiKanjeng Nabi pun menjadi sedih. Belia tidak pernah merasakan kesedihan hatiseperti saat itu.

Tiba-tiba beliau pun didatangkan gambar Masjid Baitul Maqdis yang terletak didekat rumah Akil bin Abi Tholib. Kaum Quraisy lalu saling bertanya: “Berapabanyakkah jumlah pintu Baitul Maqdis?” padahal Kanjeng Nabi belum pernahmenghitungnya. Kemudian beliau melihat dan mengamati gambar masjid sertamenghitung jumlah pintunya dengan jelas. Lalu Kanjeng Nabi pun menjawab danmemberitahukannya kepada mereka semua. Dengan sepontan Shohabat Abu Bakarberkata: “Benar kamu ya Rasulullah. Kamu memang benar! Saya bersaksi bahwaengkaulah utusan Allah SWT.”

Kaum Quraisy saling berkata kepada Abu Bakar: “Berkaitan dengan sifat-sifatmasjid, demi Allah Muhammad memang benar. Namun apakah engkau juga membenarkanjika Muhammad telah bepergian dalam kurun waktu semalam ke Baitul Maqdis? Dantelah tiba kembali di tempat ini sebelum subuh?” Abu Bakr menjawab: “Ya, justruitu, sesungguhnya saya sangat membenarkannya. Saya juga percaya mengenai ceritaKanjeng Nabi yang naik ke langit (Mi’raj) dalam kurun waktu sepagi atausesore.” Sebab itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq (orang yang cepatpercaya).

Lantas kaum Quraisy bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Wahai Muhammad! Coba kamuceritakan tentang rombongan unta-unta kita (yang sekarang baru bepergian keBaitul Maqdis).” Kanjeng Nabi berkata: “Saya bertemu rombongan unta Bani Fulandi Rukhaa yang kehilangan untanya dan mereka semua saling mencarinya. Kemudiansaya singgah sejenak, tapi saya tidak bertemu dengan siapa-siapa. Tiba-tiba ditempat itu, saya menemukan semangkuk air. Air itu lalu saya minum.

Kemudian saya juga bertemu dengan rombongan unta-unta Bani Fulan di sana-sini.Dan di tempat itu ada unta merah yang ada muatannya karug hitam dan karungputih. Ketika saya melewatinya, rombongan unta-unta itu sama-sama terkejut dansaling berlarian membuyarkan diri.
Lalu saya bertemu iring-iringan rombongan orang-orang yang naik unta dari BaniFulan di Tan’im. Unta yang terdepan berwarna kelabu yang bergaris hitam. Untatersebut membawa dua karung. Rombongan untan-unta tersebut sebentar lagi akantiba di sini.”

Kaum Quraisy bertanya: “Kira-kira kapan rombongan unta-unta itu akan tiba?”Kanjeng Nabi menjawab: “Hari Rabu!” Ketika hari Rabu telah tiba, kaum Quraisysama-sama menjemput dan menunggu kedatangannya. Tidak disangka, hari Rabu punhampir berselang, rombongan unta-unta belum juga tiba. Kanjeng Nabi laluberdo’a-meminta kepada Allah SWT agar hari itu di tambah satu jam lagi danmatahari ditahan berhenti hingga iring-iringan unta-unta itu tiba.

Lantas kaum Quraisy sama-sama menjemput rombongan unta-unta itu dan salingbertanya: “Apakah kalian kehilangan unta?” Rombongan tersebut menjawab: “Iya,benar!” Perowi hadits menceritakan: “Kaum Quraisy saling bertanya kepadarombongan unta-unta yang lain. Apa unta kalian yang berwarna merah kakinyapatah?” Mereka menjawabnya: “Iya, benar!” Kaum Quraisy bertanya lagi: “Apakahdi antara kalian ada yang memiliki semangkuk air?” Ada salah seorang yangmenjawab: “Saya bersumpah demi Allah, saya meletakkan semangkuk air. Tidak adaseorang pun yang mengaku meminum air itu dan juga tidaklah tumpah air itu ketanah, namun airnya habis dengan sendirinya.”

Pada Akhirnya kaum Quraisy sama-sama menuduh kepada Kanjeng Nabi dan berucap:“Benar, apa kata Al-Walid!” Sebab peristiwa tersebut, Allah pun menurunkanayat: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan ar-ru’ya (penglihatan dan pengetahuanyang telah Kuperlihatkan ketika Isra’-Mi’raj), kecuali hanya menjadifitnah-ujian bagi manusia.”

Berakhirlah kisah perjalanan Isra’-Mi’raj rasulullah Muhammad SAW. Segala pujibagi Allah atas segala pertolongan-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkanRahmat dan salam-Nya kepada Nabiullah Muhammad, keluarga, dan kepada parashahabat-shahabat beliau dengan Rahmat dan Salam yang melimpah-ruah. Dan segalapuji tersebut, hanyalah milik Allah, Tuhan sekalian Alam, amin…


-------------------------------------------------------------- TAMMAT ---------------------------------------------
LINK BAGIAN-1 : http://www.facebook.com/notes/desa-kubang-puji/kitab-dardir-kisah-isra-miroj-bagian-1/376335732487579


Sekilas tentang Penulis:
Abul Barakat Sayyid Ahmad Dardir
<photoid></photoid>
Di belakang Masjid Al-Azhar terdapat kedai bukuMustafa Halabi, kedai yang menjual kitab turath (cetakan lama dan kertaskuning). Jauh di belakang kedai buku itu, ramai yang tidakmengetahui di situ bersemadinya seorang jasad 'alim yang masyhuriaitu Sayyidi Ahmad Dardir r.anhu atau lebih dikenali dengan MALIKIAS-SOGHIR (iaitu Maliki Kecil) kerana alim dan faqihnya beliau dalam mendalamiilmu dalam mazhab Maliki. Tidak dinafikan juga ilmu tasawuf yang beliaumiliki hingga digelarkan "ABUL BARAKAT" iaitu bapa kepada keberkatan.Menurut Syeikh Soleh Jaafari r.anhu, satu karomah yang diberikan kepada beliauialah setiap malam beliau dikurniakan bermimpi bertemu dengan Rasulullah s.a.w.


Sayyidi Ahmad Dardirdilahirkan di Kampung Bani 'Adi, muhafazah (wilayah) Asyut pada tahun 1127H.Perkampungan Bani 'Adi sememangnya terkenal dengan melahirkan ramai ulamak danorang-orang soleh. Contohnya, mantan Mufti Mesir, Al-Marhum Syeikh Hasanain MakhlufAl-'Adawi, imam dan khatib Masjid Al-Azhar Syeikh Ismail Sodiq Al-'Adawi adalahberasal dari kampung tersebut.
Ayahandanya, SayyidiMuhammad Ad-Dardir seorang ahli agama yang soleh. Banyak membantu masyarakatdalam ilmu Al-Quran bahkan menjadikan rumahnya sebagai tempat pengajianAl-Quran dan anaknya, Sayyidi Ahmad telah menghafaz Al-Quran dengannya.Ketikaberusia 10 tahun, ayahnya wafat. Tidak lama kemudian, Sayyidi Ahmad Dardirmeninggalkan kampung halaman dan mengembara ke Al-Azhar. Di sana, beliaubertemu dengan Syeikh Syamsuddin Al-Hifni, Syeikh Al-Azhar dan syeikh bagiTariqat Khalwatiyah (Maqamnya terdapat di kawasan Darrasah, berhampiran MasjidSyeikh Zaki Ibrahim).
Beliau wafat pada tahun1201H dan disemadikan di belakang Al-Azhar.

Semoga Allah meredhaiSayyidi Ahmad Dardir..




Jumat, 23 Mei 2014

Perbedaan Pendapat Seputar Sholat Jum’at
Awal waktu sholat jum’at
Perbedaan pendapat :
Pendapat I (jumhur) :
sama dengan sholat zhuhur
Pendapat II (Ahmad) :
boleh sebelum zawal dalam rangka ta’jiil.
Pandapat III (Hanabilah, Ishaq) :
Waktu sholat jum’at adalah mulai dari waktu untuk sholat ‘id sampai akhir waktu dzuhur.
Sebab perbedaan pendapat :
Perbedaan dalam memahami hadits-hadits yang memerintahkan ta’jiil sholat jum’at.
Hadits yang menerangkan bahwa hari Jum’at merupakan hari ‘Id.
Pendapat Sayyid Sabiq :
Menurut jumhur, awal waktu sholat jum’at sama dengan awal waktu sholat zhuhur. Disamping itu, beliau juga mengemukakan pendapat-pendapat lain. Namun menurut jumhur, hadits-hadits yang mendukung berbagai pendapat tersebut adalah lebih lemah.

Adzan sholat jum’at
Perbedaan pendapat :
Pendapat I (jumhur) :
ketika khatib duduk diatas mimbar.
Pendapat II :
terdapat dua adzan : yang pertama sebelum khatib naik mimbar, yang kedua : ketika khatib duduk diatas mimbar.
Sebab perbedaan pendapat :
Perbedaan dalam memahami kenyataan bahwa sebelum zaman Utsman, adzan sholat Jum’at hanya sekali. Akan tetapi, semenjak zaman Utsman dimana umat Islam sudah sangat banyak, adzan sholat Jum’at dilakukan dua kali.
Pendapat Sayyid Sabiq :
Sayyid Sabiq menukil pendapat Ibnu Taimiyah bahwa sesuai dengan sunnah Nabi, adzan sholat Jum’at hanyalah sekali tatkala imam duduk setelah terlebih dahulu mengucapkan salam.

Jumlah minimal jama’ah sholat jum’at
Para fuqaha telah sepakat bahwa sholat jum’at harus dilaksanakan secara berjama’ah.
Perbedaan pendapat :
Pendapat I (Ath-Thabari) :
satu makmum dan satu imam.
Pendapat II :
dua makmum dan satu imam.
Pendapat III (Abu Hanifah) :
tiga makmum dan satu imam.
Pendapat IV :
30 makmum dan satu imam.
Pendapat V (Syafi’I dan Ahmad) :
40 makmum dan satu imam.
Pendapat VI (Malik) :
tidak ada ketentuan yang pasti, tetapi tidak boleh hanya tiga atau empat makmum, karena ukurannya adalah jumlah yang pantas bagi sebuah kampung.
Sebab perbedaan pendapat :
Perbedaan mengenai makna “jama’ah” dalam konteks ini.
Pendapat Sayyid Sabiq :
Tidak ada dalil yang kuat yang menyatakan tentang jumlah minimal jama’ah sholat Jum’at. Sehingga, sholat jum’at dalam hal jumlah minimalnya adalah sama dengan sholat-sholat yang lainnya, yakni paling tidak satu imam dan satu makmum.

Apakah sholat jum’at wajib bagi musafir ?
Perbedaan pendapat :
Pendapat I (jumhur) : tidak wajib
Pendapat II (zhahiriyah) : wajib
Sebab perbedaan pendapat :
Perbedaan dalam memahami praktek sholat Jum’at di masa Nabi, dimana nabi tidak melaksanakan sholat Jum’at kecuali secara berjama’ah, dalam kota besar, dan dalam masjid jami’.
Pendapat Sayyid Sabiq :
Musafir tidak wajib melakukan sholat jum’at. Nabi saw pernah melakukan safar dan tidak melakukan sholat jum’at dalam safar tersebut. Beliau saw juga tidak melakukan sholat jum’at ketika sedang melakukan haji wada’ di Arafah, tetapi melakukan sholat zhuhur yang di-jama’ taqdim dengan sholat ashar. Demikian pulalah yang dilakukan oleh para khulafa’ rasyidun sepeninggal beliau.

Diam pada saat khutbah jum’at
Perbedaan pendapat :
Pendapat I (jumhur, Malik, Syafi’I, Abu Hanifah, Ahmad) :
wajib secara mutlaq.
Pendapat II (Ats-Tsauri, al-Auza’i) :
boleh tasymit (menjawab hamdalah bersin) dan menjawab salam.
Pendapat III :
wajib diam jika mendengar khutbah, boleh berbicara tentang ilmu jika tidak mendengar khutbah.
Sebab perbedaan pendapat :
Perbedaan dalam hal ‘aamm dan khashsh.
Pendapat Sayyid Sabiq :
Sayyid Sabiq hanya memaparkan perbedaan pendapat sebagaimana diatas.

Jika seseorang tiba di masjid tetapi khatib sudah diatas mimbar, apakah dia melaksanakan sholat sunnah ?
Perbedaan pendapat :
Pendapat I (jumhur) :
tetap melaksanakan sholat sunnah secara ringan (singkat).
Pendapat II (Malik) :
tidak melaksanakan sholat sunnah.
Sebab perbedaan pendapat :
Pertentangan antar hadits, yaitu antara hadits yang memerintahkan diam saat khutbah dan hadits yang memerintahkan tetap melaksanakan sholat sunnah saat khutbah hanya saja secara ringan.
Pendapat Sayyid Sabiq :
Tidak dinyatakan.

Hukum mandi jum’at
Perbedaan pendapat :
Pendapat I (jumhur) : sunnah
Pendapat II (zhahiriyah) : fardhu
Sebab perbedaan pendapat :
Pertentangan antar hadits.
Pendapat Sayyid Sabiq :
Mandi jum’at adalah sunnah.

Waktu rawaah
Perbedaan pendapat :
Pendapat I (Syafi’i) :
di awal siang
Pendapat II (Malik) :
beberapa saat sebelum dan sesudah zawal.
Pendapat III :
beberapa saat sebelum zawal.
Sebab perbedaan pendapat :
Perbedaan dalam memahami kata “rawaah”.
Pendapat Sayyid Sabiq :
Sayyid Sabiq hanya memaparkan perbedaan pendapat sebagaimana diatas.

Sahkah jual beli setelah adzan jum’at berkumandang sampai selesainya sholat ?
Perbedaan pendapat :
Pendapat I : tetap sah
Pendapat II : tidak sah
Sebab perbedaan pendapat :
Perbedaan mengenai apakah larangan terhadap sesuatu yang asalnya mubah akan menyebabkan tidak sahnya sesuatu tersebut ?
Pendapat Sayyid Sabiq :
Tidak dinyatakan.

Meninggalkan Sholat Jum’at 3x

shalat jum’at adalah sebuah kewajiban bagi ummat Islam, khususnya laki-laki dewasa. Kewajiban ini dituangkan di dalam firman Allah;
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.( Al-Jumu’ah: 9)
Adapun kewajiban itu bagi kaum muslim laki-laki berdasarkan kepada hadis nabi; Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ
“Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR Abu Daud)
Dalil-dalil tersebut menunjukkan kewajiban melakukan shalat jum’at bagi lelaki muslim. Jika kewajiban itu ditinggalkan, maka ia mendapatkan dosa besar.
Kalimat Ummat Nabi Muhammad memiliki dua makna, ummat da’wah dan ummat istajabah. Ummat da’wah adalah semua orang yang hidup setelah beliau diutus sebagai Nabi dan Rasul. Sedangkan umat Istijabah adalah manusia yang hidup setelah kerasulan beliau dan memutuskan untuk menerima dakwah baliau. Pengeluaran seseorang dari ummat nabi Muhammad memiliki makna penetapan kekufuran seseorang.
Benarkah orang yang meninggalkan shalat Jum’at ia keluar dari agama islam, alias murtad? Mari kita tinjau hadis-hadis yang menerangkan bahayanya meninggalkan shalat jum’at, apalagi sampai tiga kali berturut-turut adalah
مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ عِلَّةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ
Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at tiga kali tanpa udzur dan tanpa sebab (yang syar’i) maka Allah akan mengunci mata hatinya (HR Malik)
مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ
Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at tiga kali karena meremehkannya maka Allah akan mengunci mata hatinya (HR at-Tirmidzi)
Ibnu Abbas mengatakan
مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ جُمَعٍ مُتَوَالِيَاتٍ فَقَدْ نَبَذَ اْلإِسْلاَمَ وَرَاءَ ظَهْرِهِ
Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali berturut-turut maka ia telah melemparkan ikatan Islam ke belakang punggungnya (HR Abu Ya’la dari kata-kata Ibnu Abbas)
Dengan memperhatikan hadis-hadis tentang meninggalkan shalat jum’at, kita temukan bahwa tidak ada nash yang jelas yang menunjukkan batalnya keimanan seseorang. Memang Ibnu Abbas mengatakan telah melemparkan tali Islam ke belakangnya, maksud dari kata ini bukanlah melepaskan agama Islam, tetapi melepaskan sebagian kewajiban di dalam Islam. Terlebih bahwa ucapan itu bukan berasal dari Rasulullah saw sehingga tidak bisa digunakan untuk memastikan batalnya keislaman seseorang.
Dari sini, maka orang yang tidak menjalankan shalat jum’at tiga kali tidak dinyatakan sebagai orang kafir, apalagi kalau ia masih mau shlat yang lain.
Allahu a’lam bish-shawab